<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ummu Hilmy</title>
	<atom:link href="http://ummuhilmy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ummuhilmy.wordpress.com</link>
	<description>Meraih Cahaya Hati dengan Ilmu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 10:33:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ummuhilmy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9f9b9b69c9a918f16afc45e56ff529aa?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ummu Hilmy</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ummuhilmy.wordpress.com/osd.xml" title="Ummu Hilmy" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ummuhilmy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Telah lahir putri kami yang pertama</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/09/02/telah-lahir-putri-kami-yang-pertama/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/09/02/telah-lahir-putri-kami-yang-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 10:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Jum’at, 27 Agustus 2010 Di Rumah Sakit Mediros Jakarta Kami beri nama “NABILA”<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=396&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Pada hari Jum’at, 27 Agustus 2010</p>
<p style="text-align:center;">Di Rumah Sakit Mediros Jakarta</p>
<p style="text-align:center;">Kami beri nama</p>
<p style="text-align:center;">“NABILA”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/396/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/396/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/396/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=396&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/09/02/telah-lahir-putri-kami-yang-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Relawan Cilik (Dia Berusia 12 Tahun)</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/28/kisah-relawan-cilik-dia-berusia-12-tahun/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/28/kisah-relawan-cilik-dia-berusia-12-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 22:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Fariq Gasim Anuz Mendaftarkan Diri Menjadi Relawan Pada pagi yang cerah, di kota Jeddah, sekitar pertengahan bulan Dzulhijjah 1425H, atau akhir Januari 2005 M. Saat itu, saya sedang duduk di kantor Jeddah Da’wah Center (JDC) bersama rekan. Tiba-tiba masuklah seorang anak kecil sambil mengucapkan salam, lalu menyalami kami berdua. Ia datang ke kantor JDC [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=388&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Fariq Gasim Anuz</p>
<p><strong>Mendaftarkan Diri Menjadi Relawan</strong><br />
Pada pagi yang cerah, di kota Jeddah, sekitar pertengahan bulan Dzulhijjah 1425H, atau akhir Januari 2005 M. Saat itu, saya sedang duduk di kantor Jeddah Da’wah Center (JDC) bersama rekan. Tiba-tiba masuklah seorang anak kecil sambil mengucapkan salam, lalu menyalami kami berdua. Ia datang ke kantor JDC diantar supirnya yang berasal dari Indonesia, sementara ibu dan neneknya menunggu di mobilnya.<span id="more-388"></span></p>
<p>Anak ini masuk ke ruang sekretariat sendiri seraya mengatakan: “Saya ingin menjadi relawan di kantor dakwah ini. Ingin berkhidmat untuk kepentingan agama Islam.”</p>
<p>Saya dibuat kagum dengannya. Saya sambut dengan baik dan saya katakan: “Kira-kira, di bidang apa Anda bisa membantu kami?”</p>
<p>Dia katakan, “Saya mampu menggunakan komputer dan bisa berbahasa Inggris.”</p>
<p>Karena saya tidak bisa berbahasa Inggris, maka saya minta rekan saya untuk berbicara dengannya dengan bahasa Inggris. Setelah terjadi komunikasi antara teman dan anak ini, teman saya pun memberitahu saya: “Bagus sekali anak ini bahasa Inggrisnya”.</p>
<p>Saya katakan, “Saya belum bisa memutuskan apakah Anda bisa diterima atau tidak. Insya Allah akan saya sampaikan kepada direktur yang juga seorang relawan. Beliau sendiri bekerja di kantor Telkom Saudi. Tapi saya optimis, kalau orang seperti Anda akan diterima, insya Allah.” Lalu saya minta nomor teleponnya dan saya berikan juga nomor telepon kantor kepadanya. Lalu saya katakan: “Saya sendiri, insya Allah ada acara dakwah untuk jamaah haji Indonesia yang akan pulang ke tanah air. Anda bisa ikut bantu saya dengan membagikan kaset atau buku di air port haji di <em>madinatul hujjaj</em> (asrama haji) di Jeddah, bagaimana?”</p>
<p>Anak itu menjawab, “Insya Allah. Saya akan minta izin orang tua dulu.”<br />
Sore harinya, orang tua Ahmad (nama anak ini), menelepon ke kantor kami mencari saya dan menanyakan: “Apa betul Anda mengajak anak saya pergi ke air port haji untuk berdakwah?”</p>
<p>Saya katakan, “Betul, kalau dia berminat.”</p>
<p>Orang tuanya mengatakan: “Justru kami sangat senang sekali, jika Anda bisa membawa anak saya ke air port haji untuk ikut membantu dakwah Islam. Saya ingin anak saya ini besarnya kelak bermafaat bagi umat Islam, supaya dia ikut bergembira jika umat Islam bergembira, ikut sedih jika umat Islam sedang mendapatkan bencana dan musibah, serta supaya anak saya tidak membedakan orang menurut suku dan kebangsaannya, karena sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah diantara manusia adalah yang paling bertakwa. Hanya saja, karena anak ini masih kecil, kami tidak pernah membiarkan ia pergi sendiri. Meskipun ke sekolah, selalu kami antar dan kami jemput. Jadi bagaimana sekiranya dari pihak keluarga ikut juga ke air port bersama Anda?”</p>
<p>Saya katakan, “Itu lebih baik.”</p>
<p>Akhirnya, kami pun berangkat ke air port haji bersama Ahmad dan keluarganya. Dalam perjalanan ke air port, saya tanya kepada anak ini: “Apa yang memotivasi Anda beramal untuk kepentingan Islam?” Dia menjawab, <em>“Ajrun ‘Indallaah”</em> Artinya, aku mengharap ganjaran pahala dari sisi Allah.</p>
<p>Kemudian saya tanya lagi : “Apakah Anda hafal dzikir pagi dan sore hari?”</p>
<p>Dia menjawab, “Saya hafal.”</p>
<p>“Coba saya mau mendengar,” tanya saya lagi.</p>
<p>Lalu dia membaca dzikir pagi dan sore. Banyak sekali yang dia hafal. Sampai kami pulang dari air port.</p>
<p>Pihak kantor pun, setelah diberitahu ada anak kecil yang mendaftar menjadi relawan, menerima dengan senang hati. Dia datang ke kantor tiap hari Jum’at saat sekolah libur.</p>
<p><strong>Mudah Menerima Nasihat</strong><br />
Yang namanya anak-anak, tentu tidak lepas dari kekeliruan dalam bersikap, dan kita harus memakluminya. Janganlah kita mudah marah kepada anak, karena kita sebagai orang dewasa juga tidak lepas dari kekeliruan. Tinggal bagaimana kita harus memperbaiki kesalahannya dengan cara yang bijaksana.</p>
<p>Suatu hari, pada hari Jum’at, saat kami dan Ahmad berada di kantor, datanglah tamu menemui Ustadz Hamadi al Ashlani, salah seorang pengurus kantor JDC. Tampak perbincangan yang serius di antara mereka berdua. Ahmad yang duduk dekat mereka berdua mendengar mereka berbicara, kemudian ia langsung menyambung dan memotong ucapan mereka. Mungkin dia ingin membuktikan kepada mereka berdua, bahwa ia mengerti topik yang sedang dibicarakan.</p>
<p>Ustadz Hamadi tidak menggubris Ahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia tidak marah dan memaklumi, bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak. Saya yang berada dekat mereka segera memanggil Ahmad dan mengalihkannya kepada kegiatan lain. Saya minta Ahmad menemani saya ke sebuah toko yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer, untuk memberikan buku kepada orang Indonesia yang bekerja di sana. Sebelumnya dia menawarkan agar saya naik mobilnya dan ia pun segera mencari sopir. Saya berkeberatan karena belum izin orang tuanya. Dia berpendapat tidak apa-apa. Alhamdulillah, ternyata sopir Ahmad sedang mengikuti pengajian yang dibimbing Ustadz Farid bin Muhammad al Bathathi. Akhirnya kami berdua berjalan kaki di bawah terik matahari, pulang pergi menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Dalam perjalanan, saya sempat bertanya kepadanya: “Pada masa yang akan datang, Anda ingin menjadi apa?” Ahmad menjawab dengan mantap, tanpa ragu-ragu: “Ingin menjadi pedagang”.</p>
<p>Saya sempat menyesal membawa Ahmad berjalan kaki cukup jauh untuk anak seusia dia di bawah terik matahari. Dalam perjalanan pulang ke kantor, ibunya telepon ke hp Ahmad, yang hanya dipegang jika Ahmad ke luar rumah saja. Setelah selesai, saya katakan akan bicara ke ibunya, lalu saya mohon maaf karena membawa Ahmad jalan kaki. Ibunya mengatakan tidak apa-apa. Ahmad adalah seorang olahragawan dan fisiknya kuat, insya Allah.</p>
<p>Pada hari yang lain, saya sedang dalam perjalanan dengan rekan sekantor. Diantara pembicaraan teman saya ini, bahwa pada hari Jum’at yang lalu -saat itu saya tidak berada di kantor- datanglah tamu dari perusahaan komputer menemui pengurus kantor. Saat pengurus kantor dan tamu sedang berbincang-bincang, Ahmad pun memotong dan ikut melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Ada diantara rekan yang masih muda merasa jengkel kepada Ahmad.</p>
<p>Malamnya, segera saya telepon orang tua Ahmad, dan saya beritahu dua kejadian. Yang satu saya saksikan sendiri, dan yang kedua saya dengar dari teman sekantor, bahwa Ahmad suka memotong dan turut campur dalam pembicaraan orang dewasa. Orang tuanya senang dengan laporan ini, dan berjanji akan menasihati Ahmad. Saya juga mengatakan kepadanya akan menasihati Ahmad, tetapi belum bisa secara langsung.</p>
<p>Sayapun menulis surat kepada Ahmad tentang pentingnya saling memberi nasihat sesama muslim. Diantaranya, saya sebutkan temanmu itu adalah yang bersikap jujur dan tulus kepadamu, bukan yang selalu membenarkanmu. Disamping surat tersebut, saya sertakan pula sebuah hadits dalam Shohih Bukhari yang menunjukkan, bahwa memotong pembicaraan orang lain adalah tidak sesuai dengan adab Islam. Orang tuanya juga menasihati Ahmad. Alhamdulillah, setelah itu, terjadi perubahan yang positif. Ahmad tidak suka memotong pembicaraan orang dewasa. Dia tahu kapan ia harus bicara, dan kapan ia harus diam mendengarkan. Saya sendiri perlu mencontohnya, karena terkadang tanpa terasa suka memotong pembicaraan orang lain.</p>
<p><strong>Berdakwah Dengan Cara Menginfakkan Hartanya</strong><br />
Pada Jum’at yang lain, pengurus kantor menugaskan Ahmad untuk duduk di ruang<em> istiqbal</em> (resepsion) menerima tamu atau pembeli yang datang. Kantor JDC menjual buku-buku dan kaset-kaset dalam berbagai bahasa, seperti: bahasa Indonesia, bahasa Tagalog (Philipina), bahasa Urdu (Pakistan), bahasa Tamil dan Sinhali (Srilangka), bahasa Inggris dan lain-lain. Sebelum mulai melaksanakan tugasnya, ia mengeluarkan dari sakunya uang sebesar 5 real Saudi (sekitar dua belas ribu lima ratus rupiah), lalu ia mengatakan kepada kami: “Ini uang milik saya, saya bawa dari rumah.”</p>
<p>Saya menjawab, “Kami percaya, bahwa Anda adalah orang yang jujur.”</p>
<p>Setelah itu, saya lihat ia mulai menerima uang dari pembeli sebesar 10 real Saudi, dimasukannya ke dalam sakunya dan dicatatnya uang yang masuk tadi. Sampai datanglah seorang pengunjung asal Pakistan. Ia membeli 2 set buku yang berbahasa Inggris seharga 10 real, dan 3 kaset berbahasa Urdu seharga 9 real. Total semuanya 19 real. Sang pengunjung menyodorkan uang 50 real kepada Ahmad. Karena tidak ada kembalian, Ahmad pun membawa uang tersebut kepada sekretaris kantor di ruang lain untuk menukar uang.</p>
<p>Saya lihat buku berbahasa Inggris yang dibeli tertulis “Untuk Non Muslim”, maka saya tanya kepada pengunjung tersebut: “Anda membeli buku berbahasa Inggris ini untuk siapa? Untuk dibaca sendiri atau untuk orang lain?” Saya khawatir ia salah beli.</p>
<p>Dia menjawab, “Saya akan berikan sebagai hadiah untuk teman saya sekantor, ia kafir bukan muslim. Semoga ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam!”</p>
<p>Mendengar jawaban tersebut, segera saya bergegas menuju sekretaris kantor. Saya katakan, “Bagaimana pendapatmu, kalau buku yang dibeli oleh tamu kita ini, kita hadiahkan saja, karena buku tersebut akan dihadiahkan kepada teman sekerjanya yang kafir?”</p>
<p>Sekretaris kantor setuju. Ahmad mendengar pembicaraan kami berdua, karena ia sedang menunggu kembalian uang untuk tamunya. Sekretaris kantor mengatakan, jadi total yang ia beli hanya 9 real dan kembalinya 41 real. Tiba-tiba, secara spontan, Ahmad mengeluarkan uang 5 real miliknya dan ia berikan kepada sekretaris sambil berkata: “Saya ikut menyumbang 5 real untuk beli kaset dakwah yang dibeli orang itu. Jadi biar ia membayar cukup 4 real saja”.</p>
<p>Mendengar itu, saya menjadi terharu dan saya katakan, biar saya yang membayar 5 real, Ahmad cukup 4 real saja. Dia bilang,”Ustadz saja yang 4 real, saya yang 5 real,” kemudian saya paksakan ia menerima kembali 1 real. Akhirnya, pengunjung tadi mendapatkan buku-buku dan kaset secara gratis, dikembalikanlah uang 50 real. Dia pulang dengan girang.</p>
<p><strong>Memberikan Ceramah di Depan Jamaah Haji Indonesia</strong><br />
Suatu hari, saya pernah menawarkan kepada Ahmad untuk memberikan ceramah di hadapan jamaah haji Indonesia di <em>madinatul hujjaj</em> di air port lama, Jeddah. Dia pun menyanggupi. Lalu saya beritahukan materinya tentang ukhuwah Istamiyah, dan saya berikan point-pointnya, yaitu tentang pentingnya ukhuwah, sarana-sarana untuk memperkokoh ukhuwah serta perusak-perusak ukhuwah.</p>
<p>Kira-kira dua pekan kemudian ia bertanya: “Bagaimana Ustadz, kalau saya sampaikan materi ini dengan membaca teks. Saya belum pernah berceramah sebelum ini.”</p>
<p>Saya katakan, “Tidak apa-apa, tapi kalau bisa tanpa teks itu lebih bagus.”</p>
<p>Akhirnya, pada hari yang sudah dijadwalkan, ia dengan diantar kakek dan ibunya berangkat ke <em>madinatul hujjaj</em> untuk berceramah di hadapan jamaah haji Indonesia. Mereka sampai disana sebelum Maghrib. Saya sempat bertanya kepada Ahmad, berapa juz ia hafal al Qur`an. Ia menjawab, 10 juz. Ketika saya sampaikan ke Ahmad, bahwa setelah ia berpidato ada acara tanya jawab. Semula Ahmad berkeberatan dengan mengatakan: “Saya tidak mempunyai wewenang untuk berfatwa”. Saya tersenyum dan menjelaskan, bahwa pertanyaannya bukan tentang masalah hukum, tetapi yang sifatnya ta’aruf untuk mengenal tebih dekat lagi.</p>
<p>Saya sampaikan pada pembukaan kepada jamaah haji, bahwa hari ini kita kedatangan tamu; seorang anak kecil. Saya ceritakan, bahwa perkenalan saya dengannya baru satu bulan ketika dia datang ke kantor Jeddah Da’wah Center mendaftarkan diri untuk menjadi relawan di sana. Saya ceritakan tentang perhatiannya terhadap hafalan al Qur`an, doa-doa dan dzikir, kepandaiannya dalam bidang komputer dan bahasa Inggris, serta aktifitasnya yang padat dengan kegiatan olah raga, kursus-kursus komputer dan bahasa Inggris. Setelah itu Ahmad berceramah dalam bahasa Arab dengan membaca teks dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Ahmad berpidato dengan suara yang lantang. Ia kemukakan, bahwa ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) lebih kuat dari pada ikatan nasab (keturunan). Kemudian ia pun menceritakan sarana-sarana yang dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah, seperti: menyebarkan salam, saling mengunjungi, saling memberi hadiah, bertutur kata dengan baik dan santun. Kemudian, ia juga menjelaskan hal-hal yang dapat merusak ukhuwah, seperti: ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan menyebarluaskan rahasia.</p>
<p>Diantara jamaah haji ada yang bertanya dengan bahasa Inggris. Ahmad menjawab pertanyaan dengan lancar. Jamaah haji itu bertanya, “Mungkin Anda pernah tinggal di Eropa atau Amerika, atau lahir di sana barangkali?” Ahmad menjawab, “Tidak! Saya lahir di Saudi Arabia, dan tidak pernah pergi ke luar negeri.” Jamaah haji bertanya, “Sejak kapan Anda belajar bahasa Inggris?” Ahmad menjawab, “Saya belajar bahasa Inggris sejak umur 5 tahun.” Ahmad juga sempat ditanya jumlah saudaranya. Dia menyebutkan dua bersaudara, ia dan adiknya, Laila yang masih duduk di kelas 4 SD. Setelah selesai, maka para jamaah haji laki-taki menghampiri Ahmad dan kakeknya dan menyalaminya. Saya lihat ada di antara mereka yang menangis terharu.</p>
<p><strong>Ahmad dan Bencana Tsunami</strong><br />
Ahmad memiliki hati yang lembut dan perhatian untuk mengetahui keadaan kaum Muslimin di belahan dunia. Ketika terjadi bencana Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 M, ia pun membaca berita-berita tentang para korban dari koran, karena di rumahnya tidak ada televisi. Ia tidak menghabiskan waktunya untuk membaca berita dan informasi, tapi sekedar tahu secara global. Diantara perbincangan saya dengan Ahmad pada hari Jum’at adalah tentang bencana Tsunami. Dia sangat interest untuk mendengar berita dari saya, dan juga bersemangat menceritakan informasi yang dia dapat.</p>
<p>Tidak lama sesudah bencana Tsunami, seorang ibu yang tidak kami kenal menelpon ke kantor Islamic Center di Jeddah, meminta agar dai yang berasal dari Indonesia memberikan nasihat dalam bentuk kaset untuk kaum Muslimin di Aceh dan Sumatera Utara, agar mereka bersabar, ridha dengan ketentuan Allah, selalu bersangka baik kepada Allah, dan mengambil hikmah dari segala ujian serta cobaan yang berat ini. Alhamdulillah, akhirnya usulan ibu tersebut tertaksana, dan setelah itu, timbul ide baru agar isi nasihat itu dibukukan.</p>
<p>Saat penyusunan buku tersebut yang diberi judul Hikmah Di Balik Musibah, saya mendapat sedikit kesulitan dalam penulisan hadits-hadits Nabi. Saat itu kantor belum punya CD hadits, sedangkan untuk mengetik satu per satu teks hadits bisa membutuhkan waktu yang agak panjang, karena saya belum lancar menulis dengan huruf Arab di komputer. Akhirnya saya ingat Ahmad, dan segera menelepon keluarganya untuk minta izin agar Ahmad menyempatkan waktunya untuk membantu saya mengetik hadits-hadits Nabi berkenaan dengan musibah. Saya pun memberitahu hadits-hadits yang perlu diketik. Ahmad mengetik hadits-hadits permintaan saya itu di rumahnya, sebab di kantor sendiri pekerjaan yang ia tangani cukup banyak. Dia diberi tugas oleh pengurus kantor untuk mengetik urusan administrasi, sehingga praktis di kantor ia tidak punya waktu untuk mengetik hadits-hadits yang saya minta itu. Karena di rumahnya juga banyak kegiatan seperti belajar, ia juga aktif berolah raga seperti berenang, menunggang kuda dan bela diri, maka Ahmad akhirnya minta bantuan adiknya, Laila, yang masih duduk di kelas 4 SD untuk membantunya. Sang ibu mengawasinya dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Jika ada hal yang keliru atau salah, baru dibenarkan. Sepekan kemudian, ketika ke kantor, ia menyerahkan hasil pekerjaannya dan mengatakan : “Ustadz, saya mengetiknya sekian halaman, dan adik saya sekian halaman.”</p>
<p>Ahmad juga ikut menyumbang 100 real (sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah) dari uang tabungannya untuk korban bencana Tsunami yang akan saya sebutkan saat perpisahan.</p>
<p><strong>Bergaul Dengan Orang-orang Yang Baik</strong><br />
Orang tua Ahmad mengarahkan dan memotivasi anaknya agar menjadi relawan di kantor Islamic Center, di antara tujuannya agar anaknya bergaul dengan orang-orang yang baik dan bisa mencontoh mereka dan terhindar dari pergaulan yang tidak baik.</p>
<p>Suatu hari saya telepon orang tuanya. Saya beritahukan ada seorang dai yang usianya 70 tahun dari Jenewa, Swiss datang ke Mekkah untuk umroh dan silaturahmi mengunjungi adik-adiknya di Mekkah dan Jeddah. Saya katakan, sekarang masih berada di Mekkah dan saya ada janji untuk bertemu dengannya. Saya tawarkan, jika ayah Ahmad ada waktu, kita bisa bertemu di Mekkah. Orang tuanya senang dengan rencana ini, tetapi belum bisa memastikan apakah dapat berangkat atau tidak.</p>
<p>Kemudian, saya juga teringat Ahmad, mungkin ia tidak berminat pergi ke Mekkah untuk menemui orang tua dan mendengarkan nasihatnya. Saya katakan kepada orangtuanya, tolong tanyakan dulu kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak pergi ke Mekkah bersama kami. Orang tuanya mengatakan : “Saya rasa kita tidak perlu menanyakan kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak, karena mengunjungi orang yang shalih adalah suatu kebaikan, dan tugas kami sebagai orang tua adalah menumbuhkan minat anak”.</p>
<p><strong>Perpisahan</strong><br />
Tibalah saat saya pulang ke Indonesia pada pertengahan bulan Safar 1426H, atau akhir Maret 2005 M. Saya izin kepada Ummu Ahmad untuk mengajak Ahmad dan sopirnya al akh Musthafa makan siang di rumah makan.</p>
<p>Mendengar permintaan saya, Ummu Ahmad mengatakan: “Seharusnya kami yang mengundang Anda makan di rumah, karena anda adalah tamu. Tetapi karena suami saya sedang keluar kota, maka Ahmad lah yang akan mentraktir Anda makan di rumah makan.” Mulanya saya menolak, karena yang punya ide adalah saya, maka saya yang berhak untuk membayar. Beliau tetap memaksa, maka akhirnya saya mengalah. Sekitar jam empat sore sepulang saya dari masjid, saya dapatkan Ahmad dan Musthafa sudah menunggu di depan kantor tempat saya tinggal di sana selama dua bulan di Jeddah.</p>
<p>Sebelum berangkat ke rumah makan, Ahmad menyerahkan surat dari orang tuanya untuk saya baca, dan saya diminta untuk memberi masukan dan komentar. Surat itu dari orang tua Ahmad untuk pihak sekolah tempat Ahmad belajar.</p>
<p>Sebelumnya, pihak sekolah telah melontarkan surat kepada orang tua Ahmad, meminta izin bahwa dalam liburan musim panas, pihak sekolah akan merencanakan study tour ke Malaysia membawa 20 siswa yang berbakat, salah satu di antaranya adalah Ahmad. Ada dua tujuan pokok, yaitu untuk mengunjungi Universitas-universitas di Malaysia guna mengetahui sistem pendidikannya, dan yang kedua untuk melihat kemegahan bangunan dan arsitektur di Malaysia.</p>
<p>Orang tua Ahmad tidak setuju dan menulis surat balasan kepada sekolah. Saya baca surat tersebut. Orang tuanya menyebutkan alasan tidak mengizinkan Ahmad, bahwa tujuan tersebut tidak begitu penting, karena anaknya masih duduk di bangku SD, sehingga kurang bermanfaat bagi anak SD untuk mengetahui sistem pendidikan di universitas. Kalaupun dianggap penting, bisa dengan mendatangi pameran-pameran yang diadakan di Jeddah, misalnya. Begitu pula melihat kemegahan arsitektur dan bangunan tidak begitu penting, malah bisa berdampak negatif, yaitu anak-anak dapat tertipu dengan penampilan lahiriah, bangga dengan bangunan yang megah dan lupa dengan yang lebih pokok, yaitu masalah pentingnya membenahi hati, aqidah, ibadah dan akhlak.</p>
<p>Dalam surat itu disebutkan pula, jika pihak sekolah mempunyai program membawa siswa ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana, seperti ke Aceh, misalnya, untuk membantu para korban bencana, kami dengan senang hati akan mengizinkan anak kami untuk ikut berangkat. Lebih-lebih lagi kita tahu bersama, bahwa para missionaris Kristen banyak mengirim relawannya pergi ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana. Mereka melancarkan misinya dengan payung memberikan bantuan kemanusiaan.</p>
<p>Selesai membaca surat tersebut, saya beranggapan bahwa Ahmad tentu kecewa dengan keputusan orang tuanya ini. Segera saya ingin menghiburnya. Saya pancing Ahmad dengan pertanyaan: “Apakah Anda kecewa tidak berangkat ke Malaysia?” Ahmad menjawab dengan mantap: “Saya tidak kecewa”. Saya tanya, “Mengapa tidak kecewa? Padahal teman-teman Anda berangkat ke sana.” Kemudian Ahmad menjelaskan kepada saya, persis seperti isi surat orang tuanya untuk pihak sekolah.</p>
<p>Tidak terasa hari semakin sore, sedangkan kami belum makan siang. Ahmad mengatakan kepada saya: “Ustadz bisa pilih, ingin makan di rumah makan mana? Tidak mesti yang dekat, yang jauh juga boleh”. Saya katakan kepadanya, yang dekat saja di rumah makan at Tazaj. Berangkatlah kami bertiga ke rumah makan yang jaraknya dari kantor kurang lebih 1 kilometer. Setelah kami pesan makanan, saya tanya kepada Ahmad, pilih minum Pepsi Cola, Seven Up atau apa? Dia menjawab, “Saya pilih air putih saja.” Musthafa mengatakan, bahwa Ahmad memang sejak kecil tidak minum minuman seperti itu.</p>
<p>Selama kami makan, kami berbicara. Saya lupa apa saja yang kami bicarakan saat itu. Yang saya ingat, saya sempat bertanya kepadanya: “Apakah Anda sudah membaca surat yang saya tulis di Masjidil Haram di Mekkah untuk Anda?” Ahmad menjawab, “Belum, karena semalam saya kecapaian sehingga langsung tidur.”</p>
<p>Setetah kami selesai makan, ada diantara pelayan restoran yang berasal dari Philipina memberikan hadiah berupa selebaran berwarna-warni untuk anak-anak, dan diberikannya kepada Ahmad. Semula Ahmad tidak ingin mengambilnya, bisa jadi karena ia merasa bukan anak-anak lagi. Saya segera minta kepada Ahmad untuk menerimanya. Setelah kami sampai di mobil, saya katakan, kita berusaha untuk menjaga perasaan orang lain, jika Anda terima, berarti Anda menggembirakan dia. Dan jika Anda tolak, bisa membuat dia sedih atau kecewa.</p>
<p>Dalam perjalanan ke kantor, Ahmad mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sebesar 100 real, lalu dia berikan kepada saya seraya berkata: “Ustadz akan pulang ke Indonesia, ini saya titip uang 100 real dari tabungan saya untuk korban bencana alam Tsunami di Aceh.” Terharu saya mendengar ucapannya yang tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Sebenarnya saya tidak ingin menerima amanat ini. Tetapi karena saya juga tidak ingin mengecewakan Ahmad yang ingin berpartisipasi ikut andil menyumbang, akhirnya amanat tersebut saya terima, dan saya katakan: “Insya Allah saya akan sampaikan amanat ini kepada orang yang berhak menerimanya.”</p>
<p>Dia juga menawarkan diri untuk mengantar saya sampai air port. Saya katakan, bahwa saya sudah janji dengan Ustadz Farid al Bathathi, beliau yang akan mengantarkan saya ke air port. “Yang kedua, saya tahu bahwa jadwal Anda sangat padat. Saya tidak mau mengganggu kegiatan Anda”.<br />
Tibalah saat perpisahan. Saya tidak tahu, apakah dapat berjumpa kembali dengannya atau tidak. Yang jelas banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari Ahmad dan keluarganya.</p>
<p>Semoga Allah memberikan taufik kepada Ahmad dan anak-anak kaum Muslimin untuk tetap istiqomah dalam ketaatan, dan memberikan taufik kepada kedua orang tua Ahmad dan semua orang tua Muslimin untuk dapat mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih.</p>
<p><em>Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahablanaa min ladunka rahmah innaka anta al wahhab.</em></p>
<p>Banyak sekali pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah Ahmad. Insya Allah penulis akan membahasnya dalam sebuah buku tersendiri.</p>
<p>[Disalin dari <em>Majalah As-Sunnah</em> Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]</p>
<p>Sumber : www.fariqgasimanuz.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/388/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/388/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/388/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=388&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/28/kisah-relawan-cilik-dia-berusia-12-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cake Marmer</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/27/cake-marmer/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/27/cake-marmer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 21:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terampil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[Bahan : 300 gr margarin 250 gr gula pasir 1 sdt vanili bubuk 10 kuning telur ayam 10 putih telur ayam, kocok hingga kaku Ayak : 300 gr tepung terigu 1 sdt baking powder Adonan cokelat : 3 sdm cokelat bubuk 1 sdt cokelat pasta Hiasan : gula bubuk dan stroberi segar Cara membuat : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=371&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan :<a href="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/07/cake-marmer.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-372" title="cake marmer" src="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/07/cake-marmer.jpg?w=570" alt=""   /></a></p>
<p>300 gr margarin</p>
<p>250 gr gula pasir</p>
<p>1 sdt vanili bubuk</p>
<p>10 kuning telur ayam</p>
<p>10 putih telur ayam, kocok hingga kaku <span id="more-371"></span><br />
Ayak :</p>
<p>300 gr tepung terigu</p>
<p>1 sdt baking powder</p>
<p>Adonan cokelat :</p>
<p>3 sdm cokelat bubuk</p>
<p>1 sdt cokelat pasta</p>
<p>Hiasan : gula bubuk dan stroberi segar</p>
<p>Cara membuat :</p>
<p>1. Panaskan oven dengan temperatur 175 derajat Celcius siapkan loyang bentuk<br />
cincin ukuran 24 cm olesi dengan margarin dan taburi terigu, sisihkan.</p>
<p>2. Kocok margarin, gula dan vanili hingga mengembang. Masukkan kuning telur<br />
satu persatu, sambil kocok terus hingga mengembang. Masukkan campuran<br />
tepung terigu sedikit-sedikit sambil aduk rata.</p>
<p>3. Tambahkan telur putih kocok sammbil aduk rata.</p>
<p>4. Adonan cokelat : ambil 100 ml adonan, campur dengan cokelat bubuk dan cokelat<br />
pasta hingga rata.</p>
<p>5. Tuangkan setengah bagian adonan putih ke dalam loyang, ratakan. Tambahkan<br />
setengah bagian adonan cokelat, aduk dengan garpu hingga terbentuk marmer.</p>
<p>6. Tuangkan sisa adonan putih dan adonan cokelat, aduk kembali dengan garpu.</p>
<p>7. Panggang selama 45 menit hingga kecokelatan dan matang. Angkat dan<br />
dinginkan.</p>
<p>8. Hias dengan gula bubuk dan stroberi segar. Sajikan sebagai teman minum teh atau<br />
kopi.</p>
<p>Untuk : 16 potong</p>
<p>Sumber : Resep Persem bahan indosiar .com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/371/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=371&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/27/cake-marmer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/07/cake-marmer.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cake marmer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jilbabku Penutup Auratku</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/26/jilbabku-penutup-auratku-2/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/26/jilbabku-penutup-auratku-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 22:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Penyusun: Ummu Ziyad Muroja’ah: Ust. Aris Munandar Pembahasan kali ini merupakan perinciaan dari artikel-artikel sebelumnya yang membahas tentang masalah jilbab muslimah yang sesuai syari’at sekaligus jawaban atas berbagai komentar yang masuk. Jilbab merupakan bagian dari syari’at yang penting untuk dilaksanakan oleh seorang muslimah. Ia bukanlah sekedar identitas atau menjadi hiasan semata dan juga bukan penghalang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=361&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyusun: Ummu Ziyad<br />
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar</p>
<p>Pembahasan kali ini merupakan perinciaan dari artikel-artikel sebelumnya yang membahas tentang masalah jilbab muslimah yang sesuai syari’at sekaligus jawaban atas berbagai komentar yang masuk.<br />
Jilbab merupakan bagian dari syari’at yang penting untuk dilaksanakan oleh seorang muslimah. Ia bukanlah sekedar identitas atau menjadi hiasan semata dan juga bukan penghalang bagi seorang muslimah untuk menjalankan aktivitas kehidupannya. Menggunakan jilbab yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah wajib dilakukan oleh setiap muslimah, sama seperti ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, puasa yang diwajibkan bagi setiap muslim. Ia bukanlah kewajiban terpisah dikarenakan kondisi daerah seperti dikatakan sebagian orang (karena Arab itu berdebu, panas dan sebagainya). Ia juga bukan kewajiban untuk kalangan tertentu (yang sudah naik haji atau anak pesantren).<span id="more-361"></span></p>
<p>Benar saudariku… memakai jilbab adalah kewajiban kita sebagai seorang muslimah. Dan dalam pemakaiannya kita juga harus memperhatikan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Seperti telah disebutkan pada artikel sebelumnya, terdapat beberapa persyaratan dalam penggunanan jilbab yang sesuai syari’at. Semoga Allah memudahkan penulis memperjelas poin-poin yang ada dalam artikel sebelumnya.</p>
<p><strong>DEFINISI JILBAB</strong></p>
<p>Secara <strong>bahasa</strong>, dalam kamus <em>al Mu’jam al Wasith</em> 1/128, disebutkan bahwa jilbab memiliki beberapa makna, yaitu:</p>
<ol>
<li>Qomish (sejenis jubah).</li>
<li>Kain yang menutupi seluruh badan.</li>
<li>Khimar (kerudung).</li>
<li>Pakaian atasan seperti milhafah (selimut).</li>
<li>Semisal selimut (baca: kerudung) yang dipakai seorang      wanita untuk menutupi tubuhnya.</li>
</ol>
<p>Adapun secara <strong>istilah</strong>, berikut ini perkataan para ulama’ tentang hal ini.</p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.”</em> Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, <em>“Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).”</em> (Syaikh Al Bani dalam <em>Jilbab Muslimah</em>).</p>
<p>Syaikh bin Baz (dari Program <em>Mausu’ah Fatawa Lajnah wal Imamain</em>) berkata, <em>“Jilbab adalah kain yang diletakkan di atas kepala dan badan di atas kain (dalaman). Jadi, jilbab adalah kain yang dipakai perempuan untuk menutupi kepala, wajah dan seluruh badan. Sedangkan kain untuk menutupi kepala disebut khimar. Jadi perempuan menutupi dengan jilbab, kepala, wajah dan semua badan di atas kain (dalaman).”</em> (bin Baz, 289). Beliau juga mengatakan, <em>“Jilbab adalah rida’ (selendang) yang dipakai di atas khimar (kerudung) seperti abaya (pakaian wanita Saudi).”</em> (bin Baz, 214). Di tempat yang lain beliau mengatakan, <em>“Jilbab adalah kain yang diletakkan seorang perempuan di atas kepala dan badannnya untuk menutupi wajah dan badan, sebagai pakaian tambahan untuk pakaian yang biasa (dipakai di rumah).”</em> (bin Baz, 746). Beliau juga berkata, <em>“Jilbab adalah semua kain yang dipakai seorang perempuan untuk menutupi badan. Kain ini dipakai setelah memakai dar’un (sejenis jubah) dan khimar (kerudung kepala) dengan tujuan menutupi tempat-tempat perhiasan baik asli (baca: aurat) ataupun buatan (misal, kalung, anting-anting, dll).”</em> (bin Baz, 313).</p>
<p>Dalam artikel sebelumnya, terdapat pertanyaan apa beda antara jilbab dengan hijab. Syaikh Al Bani <em>rahimahullah</em> mengatakan, <em>“Setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yang tampak.”</em> Sehingga memang terkadang kata hijab dimaksudkan untuk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi atau meghalangi dirinya, baik berupa tembok, sket ataupun yang lainnya. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al-Ahzab ayat 53, <em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kamu diberi izin… dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepda mereka (para istri Nabi), maka mintalah dari balik hijab…”</em></p>
<p><strong>SYARAT-SYARAT PAKAIAN MUSLIMAH</strong></p>
<p><strong>1. Menutup Seluruh Badan Kecuali Yang Dikecualikan</strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً</p>
<p><em>“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS. Al Ahzab: 59)</p>
<p>وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا…</p>
<p><em>“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”</em> (QS. An Nuur: 31)</p>
<p>Tentang ayat dalam surat An Nuur yang artinya <em>“kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”</em>, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama sehingga membawa konsekuensi yang berbeda tentang hukum penggunaan cadar bagi seorang muslimah. Untuk penjelasan rinci, silakan melihat pada artikel yang sangat bagus tentang masalah ini pada artikel <em>Hukum Cadar</em> di www.muslim.or.id.</p>
<p>Dari syarat pertama ini, maka jelaslah bagi seorang muslimah untuk menutup seluruh badan kecuali yang dikecualikan oleh syari’at. Maka, sangat menyedihkan ketika seseorang memaksudkan dirinya memakai jilbab, tapi dapat kita lihat rambut yang keluar baik dari bagian depan ataupun belakang, lengan tangan yang terlihat sampai sehasta, atau leher dan telinganya terlihat jelas sehingga menampakkan perhiasan yang seharusnya ditutupi.</p>
<p>Catatan penting dalam poin ini adalah penggunaan khimar yang merupakan bagian dari syari’at penggunaan jilbab sebagaimana terdapat dalam ayat selanjutnya dalam surat An Nuur ayat 31,</p>
<p>وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ</p>
<p><em>“Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke dadanya.”</em></p>
<p><em>Khumur</em> merupakan jamak dari kata <em>khimar</em> yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menutupi bagian kepala. Sayangnya, pemakaian khimar ini sering dilalaikan oleh muslimah sehingga seseorang mencukupkan memakai jilbab saja atau hanya khimar saja. Padahal masing-masing wajib dikenakan, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Sa’id bin Jubair mengenai ayat dalam surat Al Ahzab di atas, ia berkata, <em>“Yakni agar mereka melabuhkan jilbabnya. Sedangkan yang namanya jilbab adalah qina’ (kudung) di atas khimar. Seorang muslimah tidak halal untuk terlihat oleh laki-laki asing kecuali dia harus mengenakan qina’ di atas khimarnya yang dapat menutupi bagian kepala dan lehernya.”</em> Hal ini juga terdapat dalam atsar dari ‘Aisyah <em>radhiallahu’anha</em>, ia berkata,</p>
<p>لابد للمرأة من ثلاثة أثواب تصلي فيهن: درع و جلباب و خمار</p>
<p><em>“Seorang wanita dalam mengerjakan shalat harus mengenakan tiga pakaian: baju, jilbab dan khimar.”</em> (HR. Ibnu Sa’ad, isnadnya shahih berdasarkan syarat Muslim)</p>
<p>Namun terdapat keringanan bagi wanita yang telah menopause yang tidak ingin kawin sehingga mereka diperbolehkan untuk melepaskan jilbabnya, sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 60:</p>
<p>وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ</p>
<p><em>“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.”</em></p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiallahu’anhu</em> mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “pakaian” pada ayat di atas adalah “jilbab” dan hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi). Dapat pula diketahui di sini, bahwa pemakaian khimar yang dikenakan sebelum jilbab adalah <strong>menutupi dada</strong>. Lalu bagaimana bisa seseorang dikatakan memakai jilbab jika hanya sampai sebatas leher? Semoga ini menjadi renungan bagi saudariku sekalian.</p>
<p>Berikut ini contoh tampilan khimar dan jilbab. Khimar dikenakan menutupi dada. Setelah itu baru dikenakan jilbab di atasnya. (warna, bentuk dan panjang pakaian dalam gambar hanyalah sebagai contoh).</p>
<p><a href="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/06/jilbab4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-367" title="jilbab" src="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/06/jilbab4.jpg?w=570" alt=""   /></a><a href="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/06/jilbab23.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-368" title="jilbab2" src="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/06/jilbab23.jpg?w=570" alt=""   /></a></p>
<p>Catatan penting lainnya dari poin ini adalah terdapat anggapan bahwa pakaian wanita yang sesuai syari’at adalah yang berupa jubah terusan (longdress), sehingga ada sebagian muslimah yang memaksakan diri untuk menyambung-nyambung baju dan rok agar dikatakan memakai pakaian longdress. Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini, yaitu <em>apakah jilbab harus “terusan” atau “potongan” (ada pakaian atasan dan rok bawahan)</em>. Maka jawaban Lajnah Daimah, <em>“Hijab (baca: jilbab) baik terusan ataukah potongan, keduanya tidak mengapa (baca: boleh) asalkan bisa menutupi sebagaimana yang diperintahkan dan disyari’atkan.”</em> Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota (<em>Fatawa Lajnah Daimah</em> 17/293, no fatwa: 7791, Maktabah Syamilah). Dengan demikian, jelaslah tentang tidak benarnya anggapan sebagian muslimah yang mempersyaratkan jubah terusan (longdress) bagi pakaian muslimah. Camkanlah ini wahai saudariku!</p>
<p><strong>2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan</strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 31, <em>“…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…”</em> Ketika jilbab dan pakaian wanita dikenakan agar aurat dan perhiasan mereka tidak nampak, maka tidak tepat ketika menjadikan pakaian atau jilbab itu sebagai perhiasan karena tujuan awal untuk menutupi perhiasan menjadi hilang. Banyak kesalahan yang timbul karena poin ini terlewatkan, sehingga seseorang merasa sah-sah saja menggunakan jilbab dan pakaian indah dengan warna-warni yang lembut dengan motif bunga yang cantik, dihiasi dengan benang-benang emas dan perak atau meletakkan berbagai pernak-pernik perhiasan pada jilbab mereka.</p>
<p>Namun, terdapat kesalahpahaman juga bahwa jika seseorang tidak mengenakan jilbab berwarna hitam maka berarti jilbabnya berfungsi sebagai perhiasan. Hal ini berdasarkan beberapa atsar tentang perbuatan para sahabat wanita di zaman Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang mengenakan pakaian yang berwarna selain hitam. Salah satunya adalah atsar dari Ibrahim An Nakhai,</p>
<p>أنه كان يدخل مع علقمة و الأسود على أزواج النبي صلى الله عليه و سلم و يرا هن في اللحف الحمر</p>
<p><em>“Bahwa ia bersama Alqomah dan Al Aswad pernah mengunjungi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia melihat mereka mengenakan mantel-mantel berwarna merah.”</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam kitab <em>Al Mushannaf</em>)</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Masalah warna ini berlaku bagi wanita. Adapun bagi pria, terdapat hadits yang menerangkan pelarangan penggunaan pakaian berwarna merah.</p>
<p>Dengan demikian, tolak ukur “Pakaian perhiasan ataukah bukan adalah berdasarkan ‘urf (kebiasaan).” (keterangan dari Syaikh Ali Al Halabi). Sehingga suatu warna atau motif menarik perhatian pada suatu masyarakat maka itu terlarang dan hal ini boleh jadi tidak berlaku pada masyarakat lain.</p>
<p><strong>3. Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda tentang dua kelompok yang termasuk ahli neraka dan beliau belum pernah melihatnya,</p>
<p>وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا</p>
<p><em>“Dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.”</em> (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421 – lihat majalah Al Furqon Gresik)</p>
<p>Ambil dan camkanlah hadits ini wahai saudariku, karena ancamannya demikian keras sehingga para ulama memasukkannya dalam dosa-dosa besar. Betapa banyak wanita muslimah yang seakan-akan menutupi badannya, namun pada hakekatnya telanjang. Maka dalam pemilihan bahan pakaian yang akan kita kenakan juga harus diperhatikan karena sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr, <em>“Bahan yang tipis dapat menggambarkan bentuk tubuh dan tidak dapat menyembunyikannya.”</em> Syaikh Al Bani juga menegaskan, <em>“Yang tipis (transparan) itu lebih parah dari yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal).”</em> Bahkan kita ketahui, bahan yang tipis terkadang lebih mudah dalam mengikuti lekuk tubuh sehingga sekalipun tidak transparan, bentuk tubuh seorang wanita menjadi mudah terlihat.</p>
<p><strong>4. Harus Longgar, Tidak Ketat</strong></p>
<p>Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengetahuinya, beliau bersabda,</p>
<p>مرْها فلتجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظمها</p>
<p><em>“Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.”</em> (HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)</p>
<p>Maka tidak tepat jika seseorang mencukupkan dengan memakai rok, namun ternyata tetap memperlihatkan pinggul, kaki atau betisnya. Maka jika pakaian tersebut telah cukup tebal dan longgar namun tetap memperlihatkan bentuk tubuh, maka dianjurkan bagi seorang muslimah untuk memakai lapisan dalam. Namun janganlah mencukupkan dengan kaos kaki panjang, karena ini tidak cukup untuk menutupi bentuk tubuh (terutama untuk para saudariku yang sering tersingkap roknya ketika menaiki motor sehingga terlihatlah bentuk betisnya). Poin ini juga menjadi jawaban bagi seseorang yang membolehkan penggunaan celana dengan alasan longgar dan pinggulnya ditutupi oleh baju yang panjang. Celana boleh digunakan untuk menjadi lapisan namun bukan inti dari pakaian yang kita kenakan. Karena bentuk tubuh tetap terlihat dan hal itu menyerupai pakaian kaum laki-laki. (lihat poin 6). Jika ada yang beralasan, celana supaya fleksibel. Maka, tidakkah ia ketahui bahwa rok bahkan lebih fleksibel lagi jika memang sesuai persyaratan (jangan dibayangkan rok yang ketat/span). Kalaupun rok tidak fleksibel (walaupun pada asalnya fleksibel) apakah kita menganggap logika kita (yang mengatakan celana lebih fleksibel) lebih benar daripada syari’at yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Renungkanlah wahai saudariku!</p>
<p><strong>5. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum</strong></p>
<p>Perhatikanlah salah satu sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkaitan tentang wanita-wanita yang memakai wewangian ketika keluar rumah,</p>
<p>ايّما امرأةٍ استعطرتْ فمَرّتْ على قوم ليَجِدُوا رِيْحِها، فهيا زانِيةٌٍ</p>
<p><em>“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.”</em> (HR. Tirmidzi)</p>
<p>أيما امرأة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء الاخرة</p>
<p><em>“Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat isya’.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Syaikh Al Bani berkata, <em>“Wewangian itu selain ada yang digunakan pada badan, ada pula yang digunakan pada pakaian.”</em> Syaikh juga mengingatkan tentang penggunaan bakhur (wewangian yang dihasilkan dari pengasapan) yang ini lebih banyak digunakan untuk pakaian bahkan lebih khusus untuk pakaian. Maka hendaknya kita lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan segala jenis bahan yang dapat menimbulkan wewangian pada pakaian yang kita kenakan keluar, semisal produk-produk pelicin pakaian yang disemprotkan untuk menghaluskan dan mewangikan pakaian (bahkan pada kenyataannya, bau wangi produk-produk tersebut sangat menyengat dan mudah tercium ketika terbawa angin). Lain halnya dengan produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci.</p>
<p><strong>6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki</strong></p>
<p>Terdapat hadits-hadits yang menunjukkan larangan seorang wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya (tidak terbatas pada pakaian saja). Salah satu hadits yang melarang penyerupaan dalam masalah pakaian adalah hadits dari Abu Hurairah <em>radhiallahu’anhu</em>, ia berkata</p>
<p>لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الرجل يلبس لبسة المرأة و المرأة تلبس لبسة الرجل</p>
<p><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.”</em> (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, <em>“Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.”</em> Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai laki-laki dimana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyari’atkan bagi wanita. Bahkan yang berdampak parah jika sampai membawa kepada maksiat lain, yaitu terbawa sifat kelaki-lakian, sehingga pada akhirnya menyukai sesama wanita. <em>Wal’iyyadzubillah.</em></p>
<p>Terdapat dua landasan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi kita untuk menghindari penggunaan pakaian yang menyerupai laki-laki.</p>
<ol>
<li>Pakaian tersebut membedakan antara pria dan wanita.</li>
<li>Tertutupnya kaum wanita.</li>
</ol>
<p>Sehingga dalam penggunaan pakaian yang sesuai syari’at ketika menghadapi yang bukan mahromnya adalah tidak sekedar yang membedakan antara pria dan wanita namun tidak tertutup atau sekedar tertutup tapi tidak membedakan dengan pakaian pria. Keduanya saling berkaitan. Lebih jelas lagi adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab <em>Al Kawakib</em> yang dikutip oleh syaikh Al Bani, yang penulis ringkas menjadi poin-poin sebagai berikut untuk memudahkan pemahaman,</p>
<ol>
<li>Prinsipnya bukan semata-mata apa yang dipilih, disukai      dan biasa dipakai kaum pria dan kaum wanita.</li>
<li>Juga bukan pakaian tertentu yang dinyatakan Nabi <em>shallallahu      ‘alaihi wa sallam</em> atau yang dikenakan oleh kaum pria dan wanita di      masa beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></li>
<li>Jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup juga tidak      ditentukan (sehingga jika seseorang memakai celana panjang dan kaos      kemudian menutup pakaian dan jilbab di atasnya yang sesuai perintah      syari’at sehingga bentuk tubuhnya <strong>tidak tampak</strong>, maka yang seperti      ini tidak mengapa -pen)</li>
</ol>
<p>Kesimpulannya, yang membedakan antara jenis pakaian pria dan wanita kembali kepada apa yang sesuai dengan apa yang diperintahkan bagi pria dan apa yang diperintahkan bagi kaum wanita. Namun yang perlu diingat, pelarangan ini adalah dalam hal-hal yang tidak sesuai fitrahnya. Syaikh Muhammad bin Abu Jumrah <em>rahimahullah</em> sebagaimana dikutip oleh Syaikh Al Bani mengatakan, <em>“Yang dilarang adalah masalah pakaian, gerak-gerik dan lainnya, bukan penyerupaan dalam perkara kebaikan.”</em></p>
<p><strong>7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir</strong></p>
<p>Banyak dari poin-poin yang telah disebutkan sebelumnya menjadi terasa berat untuk dilaksanakan oleh seorang wanita karena telah terpengaruh dengan pakaian wanita-wanita kafir. Betapa kita ketahui, mereka (orang kafir) suka menampakkan bentuk dan lekuk tubuh, memakai pakaian yang transparan, tidak peduli dengan penyerupaan pakaian wanita dengan pria. Bahkan terkadang mereka mendesain pakaian untuk wanita maskulin! Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan meminta pertolongan untuk dijauhkan dari kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p><em>“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan <strong>janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya</strong>, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”</em> (QS. Al Hadid [57]: 16)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Firman Allah, ‘Janganlah mereka seperti…’ merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka….”</em> (<em>Al Iqtidha</em>, dikutip oleh Syaikh Al Bani)</p>
<p><strong>8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api naar.”</em></p>
<p>Adapun <em>libas syuhrah</em> (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya. (<em>Jilbab Muslimah</em>)</p>
<p>Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan <strong>keinginan meraih popularitas</strong>. Jadi, yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.”</em> (HR. Tirmidzi)</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Demikian sedikit penjelasan tentang pengertian jilbab dan penjelasan dari poin-poin tentang persyaratan jilbab muslimah yang sesuai syari’at. Saudariku… janganlah kita terpedaya dengan segala aktifitas dan perkataan orang yang menjadikan seseorang cenderung merasa tidak mungkin untuk menggunakan jilbab yang sesuai syari’at. Ingatlah, bahwa sesungguhnya tidak ada teman di hari akhir yang mau menanggung dosa yang kita lakukan. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan ketika menjalankan segala ibadah yang telah disyari’atkan. Semoga artikel ini juga dapat menjawab berbagai pertanyaan dan komentar yang masuk pada artikel-artikel sebelumnya. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<ol>
<li>Majalah Al Furqon, edisi 12 tahun III</li>
<li><em>Jilbab Muslimah</em>.      Syaikh Al Bani. Pustaka At Tibyan</li>
<li><em>Maktabah Syamilah</em></li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Sumber : www.muslimah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/361/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=361&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/26/jilbabku-penutup-auratku-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/06/jilbab4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jilbab</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/06/jilbab23.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jilbab2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sate Padang</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/25/sate-padang/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/25/sate-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 22:26:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terampil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Bahan : 350 gram hati sapi, rebus sebentar,potong dadu 1 lidah sapi, rebus matang, potong dadu 500 gram daging sapi has dalam, potong dadu 3 batang serai memarkan 4 cm jahe memarkan 2 cm lengkuas memarkan 1 lembar daun kunyit 4 lembar daun jeruk 500 ml air 50 gram tepung beras, larutkan dengan sedikit air [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=381&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahan :<a href="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/07/sate-padang.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-382" title="sate padang" src="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/07/sate-padang.jpg?w=570" alt=""   /></a></p>
<p>350 gram hati sapi, rebus sebentar,potong dadu</p>
<p>1 lidah sapi, rebus matang, potong dadu</p>
<p>500 gram daging sapi has dalam, potong dadu</p>
<p>3 batang serai memarkan</p>
<p>4 cm jahe memarkan</p>
<p>2 cm lengkuas memarkan</p>
<p>1 lembar daun kunyit</p>
<p>4 lembar daun jeruk</p>
<p>500 ml air</p>
<p>50 gram tepung beras, larutkan dengan sedikit air<span id="more-381"></span></p>
<p>Haluskan :</p>
<p>8 cabai merah besar</p>
<p>10 siung bawang merah</p>
<p>6 siung bawang putih</p>
<p>1 sdm ketumbar, sangrai</p>
<p>1 sdt jintan, sangrai</p>
<p>5 cm kunyit</p>
<p>1 sdt garam dan 1/2 sdt merica bubuk</p>
<p>Pelengkap : ketupat dan bawang goreng</p>
<p>Cara membuat :</p>
<p>1. Campur bumbu yang dihaluskan dengan hati sapi, daging sapi dan lidah sapi,<br />
diamkan selama 30 menit.</p>
<p>2. Masak daging bersma rendamannya, serai, jahe, lengkuas, daun kunyit dan<br />
daun jeruk hingga matang, angkat daging dan kuah kentalkan dengan larutan<br />
tepung beras hingga mengental, angkat.</p>
<p>3. Siapkan tusukan sate. Tusuk 4-5 potong daging dan panggang diatas bara api<br />
sebentar, angkat.</p>
<p>4. Siapkan pinggan beri ketupat dan sate, tuangkan sausnya, taburi dengan<br />
bawang goreng.</p>
<p>Untuk : 35 tusuk</p>
<p>Disalin dari : Resep Persembahan Indosiar.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/381/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=381&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/25/sate-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ummuhilmy.files.wordpress.com/2010/07/sate-padang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sate padang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a dari 70 Ribu Malaikat</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/25/doa-dari-70-ribu-malaikat/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/25/doa-dari-70-ribu-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 10:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya. (musnad ahmad 2/110, syaikh ahmad syakir mengatakan bahwa sanadnya shahih). Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, ‘Shalawat malaikat bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=343&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tiada seorang muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70.000 malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore harinya, dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya.</strong> (musnad ahmad 2/110, syaikh ahmad syakir mengatakan bahwa sanadnya shahih).<span id="more-343"></span></p>
<p>Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, ‘Shalawat malaikat bagi anak adam ialah dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan maghfirah. Sedang yang dimaksud dengan ‘kapanpun di siang hari’ yakni waktu ia menjenguk. Jika ia menjenguknya di siang hari, maka malaikat mendoakannya hingga sore hari dan bila ia menjenguknya di malam hari, maka malaikat mendoakannya hingga pagi. Oleh karena itu, orang yang berniat hendaknya berangkat sepagi mungkin di awal siang, atau bersegera begitu malam menjelang, agar semakin banyak didoakan malaikat.</p>
<p>‘Siapa yang membesuk orang sakit di pagi hari akan diiring oleh 70.000 malaikat, semuanya memohonkan ampun untuknya hingga sore hari, dan ia mendapat taman di jannah. Jika ia membesuknya di sore hari, ia akan diiring oleh 70 ribu malaikat yang semuanya memintakan ampun untuknya hingga pagi, dan ia mendapat taman di jannah.’ (musnad ahmad 2/206, hadits 975. Syaikh ahmad syakir menilai hadits ini shahih)</p>
<p><strong>AKU SAKIT, TETAPI KAMU TIDAK MENJENGUK-KU!</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,</p>
<p>‘Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’</p>
<p>Dia berkata. ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?!’</p>
<p>Dia berfirman, ‘Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.’</p>
<p>(diriwayatkan oleh Muslim, no. 2569)</p>
<p><strong>HUKUM MENJENGUK ORANG SAKIT</strong></p>
<p>Menjenguk orang sakit diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al Bara bin Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Nabi menyuruh kita tujuh hal dan melarang kita tujuh hal. Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhiundangan, menolong orang yang teraniaya, melaksanakn sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin. Dan beliau melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain sutera, <em>dibaj </em>(sutera halus), <em>qasiy</em> (sutera kasar), dan <em>istibraq</em> (sutera tebal). <strong>(Bukhari no.1239; Muslim no.2066)</strong></p>
<p>Hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk menjenguk orang sakit, membuat Imam Bukhari membuat “bab Wujubi ‘Iyadatil-Maridh” (Bab Kewajiban Menjenguk Orang Sakit) di dalam kitab shahih nya.</p>
<p>Imam Ath Thabari menekankan bahwa menjenguk orang sakit merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkah (dari Allah datang lewat diri) nya, disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya, dan mubah bagi mereka.</p>
<p>Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama bahwa menjenguk orang sakit hukumnya bukan wajib, yakni wajib ‘ain, (melainkan wajib kifayah).</p>
<p><strong>MANFAAT MENJENGUK ORANG SAKIT</strong></p>
<p>Selain mendapat keutamaan sebagaimana hadits-hadits yang disebutkan diatas, menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Menjenguk orang sakit      berpotensi memberi perasaan dan kesan kepadanya bahwa ia diperhatikan      orang-orang disekitarnya, dicintai, dan diharapkan segera sembuh dari      sakitnya. Hal ini dapat menentramkan hati si sakit.</li>
<li>Menjenguk orang sakit dapat      menumbuhkan semangat, motivasi, dan sugesti dari pasien; hal ini dapat      menjadi kekuatan khusus dari dalam jiwanya untuk melawan sakit yang      dialaminya. Dalam dirinya ada energi hebat untuk sembuh.</li>
<li>mencari tahu apa yang      diperlukan si sakit.</li>
<li>mengambil pelajaran dari      penderitaan yang dialami si sakit.</li>
<li>mendoakan si sakit</li>
<li>melakukan ruqyah (membaca      ayat-ayat tertentu dari Al Quran) yang syar’i.</li>
</ol>
<p><strong>MESKI SAKIT RINGAN, TETAP DIJENGUK!</strong></p>
<p>Hadits-hadits yang ada, menyuruh dan mengajurkan untuk menjenguk orang sakit, baik yang sakit kecil maupun dewasa, anak-anak maupun orang tua, dari kaum laki-laki maupun wanita. Sakit ringan maupun berat. Yang sakit terpelajar atau bukan, orang kota maupun desa, pejabat maupun rakyat jelata, miskin maupun kaya, mengerti makna menjenguk orang sakit atau pun tidak.</p>
<p>Menjenguk orang sakit tetap dianjurkan, bahkan terkadang, dalam kondisi tertentun menjadi wajib, tanpa melihat bentuk penyakit tersebut, apakah tergolong parah atau ringan. Hal ini sudah mulai memudar di antara kita, bahkan seringkali sebagian kita hanya merasa perlu menjenguk teman, saudara, atau kenalan yang sakit; jika sudah masuk rumah sakit. Sekian lama terbaring di rumah, hanya sedikit yang menjenguknya. Apalagi jika penyakit tersebut digolongkan penyakit ringan. Padahal, nabi shallallahu alaihi wa sallam menjenguk salah seorang sahabatnya yang ‘hanya’ sakit mata. Sakit mata biasa, bukan sejenis kebutaan atau penyakit mata berat lainnya!</p>
<p>Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, ‘mengenai menjenguk orang yang sakit mata, bahkan sudah ada hadits khusus yang membicarakannya, yaitu hadits Zaid bin Arqam, dia menceritakan, ‘Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjenguk saya karena saya sakit mata.’ (lihat adabul mufrad, no.532)</p>
<p><strong>MENJENGUK LAWAN JENIS?</strong></p>
<p>Wanita boleh menjenguk laki-laki yang sedang sakit, ataupun sebaliknya; meskipun bukan mahramnya. Akan tetapi, hal ini dengan syarat aman dari fitnah, menutup aurat, dan tidak terjadi khalwat (berduaan dengan lawan jenis).</p>
<p>Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan, Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, ‘Ayah, bagaimana keadaanmu?’ ‘Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” <strong>(HR. Bukhari no.5654)</strong></p>
<p>Ibnu Syihab meriwayatkan dari Abu Umamah bin Sahal bin Hanaif, ‘Bahwa dirinya diberitahu bahwasanya ada seorang wanita miskin yang sedang sakit. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam pun diberitahu tentang sakitnya wanita tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dahulu suka menjenguk orang-orang miskin dan menanyakan keadaan mereka.” <strong>(HR. Malik, Al Muwaththo’ no.531)</strong></p>
<p><strong>BOLEHKAN MENJENGUK ORANG MUSYRIK?</strong></p>
<p>Menjenguk orang kafir oleh sabagian ulama dihukumi makruh. Hal ini dikarenakan: secara implisit (tidak langsung) merupakan penghormatan kepada mereka. (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/276).</p>
<p>Namun sebagia ulama yang lain berpendapat bolehnya menjenguk orang kafir apabila ada harapan untuk masuk islam. Pendapat ini lebih dekat kepada apa yang dilakukan oleh Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p>Anas bin Malik meriwayatkan, ‘Bahwasanya ada seorang anak muda Yahudi yang pernah menjadi pembantu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia sakit, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya. Kemudian beliau bersabda, ‘Masuklah Islam!” Maka dia pun masuk Islam.” <strong>(HR. Bukhari no.5657)</strong></p>
<p>Sa’id bin Musayyib meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, ‘Ketika Abu Thalib hendak dijemput kematian. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatanginya seraya bersabda, ‘Ucapkanlah ‘Laa ilaaha illa Allah’ sebuah kalimat yang bisa aku jadikan sebagai hujjah untukmu di sisi Allah kelak.’ <strong>(HR. Bukhari no.6681)</strong></p>
<p><strong>KAPAN WAKTU MENJENGUK ORANG SAKIT?</strong></p>
<p>Tidak ada keterangan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menerangkan waktu-waktu tertentu untuk menjenguk orang sakit. Oleh karena itu, dapat dilakukan kapan saja, selama tidak merepotkan si sakit dan keluarganya.</p>
<p>Salah satu alasan menjenguk orang sakit adalah meringankan penderitaan si sakit dan memberinya dukungan moral, sehingga sangat tidak bijaksana jika kedatangan kita malah merepotkan yang bersangkutan.</p>
<p>Waktu yang tepat untuk menjenguk berbeda-beda pada setiap keadaan. Berbeda-beda dari waktu ke waktu dan antara satu tempat dengan tempat lainnya. Oleh karena itu, kita harus jeli mencari waktu yang pas untuk menjenguk, mampu memperkirakan kondisi si sakit &amp; keluarganya (sedang beristirahat atau tidak, sedang banyak tamu atau tidak, dan lain sabagainya).</p>
<p><strong>PERSINGKAT WAKTU KUNJUNGAN!</strong></p>
<p>Hendaknya kita memperhatikan waktu ketika menjenguk orang sakit. Jangan sampai terlalu lama, karena hal ini bisa membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.</p>
<p>Ibnu Thowuss mengatakan bahwa ayahnya pernah berkata, ‘Sebaik-baik kunjungan kepada orang sakit ialah yang paling singkat.’</p>
<p>Asy-Sya’bi mengatakan, ‘Kunjungan orang dungu lebih berat dirasakan oleh keluarga si sakit daripada sakitnya salah seorang angota keluarga mereka. Yaitu, orang yang datang menjenguk pada waktu yang tidak tepat dan duduk terlalu lama.’ (lihat At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 24/277)</p>
<p>Namun, apabila si sakit suka berlama-lama dengan penjenguknya, dan ingin dikunjungi sesering mungkin, maka sebaiknya keinginan tersebut dikabulkan oleh si penjenguk. Sebab, hal ini berarti memberikan kegembiraan dan dukungan moral kepada si sakit.</p>
<p>Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Sa’ad bin Mu’adz sewaktu ia menjadi korban perang Khandaq. Ketika itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar Sa’ad dibuatkan kemah di dalam masjid agar beliau bisa menjenguknya dari dekat. Sahabat mana yang tidak suka ditunggui oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dikunjungi berulang kali? (lihat Bukhari no.463)</p>
<p><strong>BERAPA KALI MENJENGUK SESEORANG?</strong></p>
<p>Hal ini dikembalikan kepada kebiasaan, kondisi penjenguk, kondisi si sakit, berapa jauh hubungan yang bersangkutan dengan si sakit.</p>
<p>Orang yang lama jatuh sakit, maka dia dijenguk dari waktu ke waktu, dalam hal ini tidak ada batasan waktu tertentu.</p>
<p><strong>MENJENGUK ORANG YANG PINGSAN ATAU KOMA</strong></p>
<p>Orang sakit yang dapat merasakan kehadiran kita dan yang tidak dapat merasakan kehadiran kita (misalnya karena pingsan atau koma), sama-sama memiliki hak untuk dijenguk. Janganlah kita enggan menjenguknya, dengan alasan, toh…mereka tidak tahu dijenguk atau tidak…mereka tidak dapat merasakan kehadiran kita.</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, ‘Anjuran menjenguk orang sakit tidak hanya ditujukan agar si sakit mengetahui penjenguknya. Sebab, di balik kunjungan itu ada dukungan moral kepada keluarganya, harpaan mendapatkan berkah dari doa penjenguk, sentuhan tangannya kepada si sakit, meniupkan bacaan mu’awwidzat, dan lain-lain.’  (Fathul baari, 10/119)</p>
<p><strong>DIMANA POSISI DUDUK PENJENGUK?</strong></p>
<p>Orang yang menjenguk, dianjurkan duduk di dekat si sakit.</p>
<p>‘Adalah nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika menjenguk orang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya.’ <strong>(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no.536, hadits shahih)</strong></p>
<p>Diantara manfaat duduk di sisi kepala si sakit: memberi rasa akrab kepada si sakit, dan memungkinkan bagi penjenguk untuk menyentuh si sakit, memanjatkan doa untuknya, meniupnya dengan ruqyah, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>MENANYAKAN KEADAAAN SI SAKIT</strong></p>
<p>Ada baiknya kita menanyakan keadaan si sakit, sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha,  Ketika Rasulullah shallalallahu alaihi wa sallam tiba di madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Kemudian, kata Aisyah, aku menemui mereka dan bertanya, ‘Ayah, bagaimana keadaanmu?’ ‘Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?” <strong>(HR. Bukhari no.5654)</strong></p>
<p><strong>JANGAN PAKSA SI SAKIT BERCERITA PANJANG LEBAR!</strong></p>
<p>Diantara maksud mengunjungi si sakit adalah untuk meringankan kan penderitaannya, oleh karena itu jangan sampai membebani bahkan menambah penderitaan si sakit ataupun keluarganya.</p>
<p>Satu hal yang dapat membebani si sakit atau keluarganya adalah pertanyaan kronologis musibah atau penyakit. Si sakit atau keluarga diminta untuk menceritakan kronologis kejadian yang cukup panjang; dan repotnya lagi, cerita ini harus diceritakan berulang kali karena hampir setiap pembesuk menanyakan, ‘awal mulanya bagaimana?’ ; ‘kejadiannya bagaimana?’ <a title="….Pengalaman saya, saking lelahnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berulang tersebut, suatu saat ketika ada anggota keluarga yang sakit, ada niatan untuk menjelaskan  kronologis &amp; riwayat penyakit, gejala-gejala, pengobatan yang sudah dilakukan," href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#footnote_0_912"><sup>1</sup></a></p>
<p><strong>HIBUR &amp; BERIKAN HARAPAN SEMBUH!</strong></p>
<p>Ada baiknya penjenguk menghibur si sakit atau keluarga si sakit dengan pahala-pahala yang akan di dapat mereka.</p>
<p>‘Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan Allah hapuskan berbagai kesalahannya, seperti sebuah pohon meruntuhkan daun-daunnya.’ <strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<p>‘Cobaan itu akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya, ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.’  <strong>(HR. Tirmidzi)</strong></p>
<p>‘Saat orang-orang tertimpa musibah diberi pahala di hari kiamat nanti, orang-orang yang selamat dari berbagai musibah tersebut berharap seandainya dahulu di dunia kulit mereka dikerat dengan gergaji besi…’ <strong>(HR. Tirmidzi)</strong></p>
<p>Ada baiknya pula penjenguk memberikan harapan sembuh kepada si sakit. Misalnya dengan mengatakan.   <em>‘Tidak perlu kuatir, insya Allah Anda akan sembuh.’ </em>atau ‘<em>penyakit ini tidak berbahaya, Anda akan segera sembuh,insya Allah.’ </em>atau kalimat-kalimat lain yang dapat menumbuhkan semangatnya untuk sembuh.</p>
<p><strong>JANGAN MENAKUT-NAKUTI!</strong></p>
<p>Apa yang kita sampaikan kepada si sakit maupun keluarganya, harus kita perhatikan benar-benar. Ucapkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat menumbuhkan motivasi atau meringankan musibah yang dialami mereka. Jangan sampai apa yang kita sampaikan malah menimbulkan rasa takut &amp; cemas terhadap si sakit maupun keluarganya.</p>
<p>Diantara yang dapat menimbulkan rasa takut adalah cerita atau kabar bahwa seseorang mengalami hal yang sama, namun berakhir dengan cacat seumur hidup, dengan kematian….; kalau maksud yang bercerita adalah agar keluarga si sakit berhati-hati dan waspada terhadap musibah yang diderita si sakit, alangkah baiknya jika di kemas dengan kalimat-kalimat yang baik.<a title="…. pengalaman saya, ketika anggota keluarga ada yang sakit, ada beberapa pengunjung yang bercerita yang malah menimbulkan ketakutan bagi si sakit; ‘wah, hati-hati. saudara dan teman-teman saya yang mengalami seperti ini harus dioperasi.  operasi nya begin" href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#footnote_1_912"><sup>2</sup></a></p>
<p><strong>MEMAHAMI KELUHAN SI SAKIT</strong></p>
<p>Keluhan yang diucapkan si sakit ada dua kemungkinan:</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, diucapkan sebagai ekspresi kekesalan dan kejengkelan. Hal ini tentnu saja dilarang oleh agama Islam, karena merupakan indikator lemahnya keyakinan dan tidak rela terhadap qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita mendengar keluhan semacam ini, si sakit segera diingatkan, dinasehati dengan cara yang baik.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong><strong>,</strong> diucapkan dalam rangka memberi informasi tentang dirinya tanpa mengharap belas kasih kepada makhluk dan tidak pula menggantungkan harapan kepada mereka. Hal ini tentu saja boleh dilakukan, bahkan didukung oleh dalil syari:</p>
<p>Ibnu Mas’ud meriwayatkan:</p>
<p>‘Aku pernah menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara beliau sedang menderita demam. Lalu aku menyentuhnya dengan tanganku, kemudian aku mengatakan, ‘Sungguh, Engkau menderita demam yang sangat berat.’ Beliau menjawab, ‘Ya, seperti layaknya demam yang diderita oleh dua orang dari kalian.’ ‘Engkau mendapat dua pahala?’ tanya Ibnu Mas’ud. Beliau menjawab ,’Ya. Tidaklah seorang muslim mengalami penderitaan -sakit dan sebagainya- melainkan Allah akan merontokkan keburukan-keburukannyaa sebagaimana pohon merontokkan daunnya.” <strong>(HR. Bukhari no.5667)</strong></p>
<p><strong>MENANGIS DI TEMPAT ORANG YANG SAKIT?</strong></p>
<p>Yang nampak dari kita, hukumnya boleh. Sebab, Abdullah bin Umar meriwayatkan,</p>
<p>‘Sa’ad bin Ubadah pernah mengeluhkan sakit yang di deritanya, kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang menjenguknya bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud. Ketika beliau menemuinya, beliau mendapatinya sedang dikerumuni oleh keluarganya. Lalu beliau bertanya, ‘Apakah dia sudah meninggal?’ Mereka menjawab, ‘Tidak ya Rasulullah!’ Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menangis, dan ketika orang-orang melihat tangisan nabi, maka mereka pun menangis. Lalu beliau bersabda, ‘Tidakkah kalian mendengar, sesungguhnya Allah tidak mengadzab karena linangan air mata maupun kesedihan hati, melainkan mengadzab karena ini -dan beliau menunjuk ke arah lidahnya- atau Dia berbelas kasih. Dan sesungguhnya mayit itu akan disiksa karena tangisan keluarganya yang meratapi (kepergian) nya.’  <strong>(HR. Bukhori no.1304)</strong></p>
<p><strong>MENDOAKAN SI SAKIT</strong></p>
<p>Orang yang menjenguk orang sakit hendaknya tidak berkata-kata kecuali sesuatu yang baik. Sebab para malaikat akan mengamini apa yang akan diucapkannya.</p>
<p>Dari Ummu Salamah, doa mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:</p>
<p>‘Apabila kamu mendatangi orang sakit atau mayit, maka ucapkanlah kata-kata yang baik. Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan.’ Kemudian, kata Ummu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku pun mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya mengatakan, ‘Ya Rasulullah, Abu Salamah sudah meninggal dunia.’ Beliau lantas bersabda, <strong>‘Ucapkanlah: Ya Allah, ampunilah aku dan dia, dan berilah aku pengganti yang baik.</strong>‘ Ummu Salamah berkata, ‘Lalu aku mengatakannya. Kemudian Allah memberiku pengganti yang lebih baik bagiku daripada dia (Abu Salamah), yakni Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.’ <strong>(HR. Muslim no.919)</strong></p>
<p>Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan berdoa agar si sakit diberikan rahmat, ampunan, kebersihan dari dosa, keselamatan, dan kebebasan dari penyakit. Diantara doa yang pernah dibaca oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam:</p>
<p>1. Mengucapkan:<strong> “Laa ba’sa thohuurun in syaa’allooh.” ‘tidak mengapa, semoga dapat membersihkan kamu (dari dosa) insya Allah.’ </strong>(riwayat Bukhari dalam al fath: 10/118)</p>
<p>Kata ‘tidak mengapa’ maksudnya ialah bahwa sakit itu dapat menghapus kesalahan. Jika mendapat kesembuhan setelah sakit, maka berarti mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Dan jika tidak, maka akan mendapatkan keuntungan berpa penghapusan dosa.</p>
<p>2. Membaca doa: “ <strong>As alukalloohal-’azhiima, robbal ‘arsyil-’azhiimi, ayyasyfiyaka.” (7x) </strong>“<strong>Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Rabb ‘Arsy yang agung agar menyembuhkanmu.”</strong></p>
<p>‘Tidak ada seorang muslim yang menjenguk seorang yang sedang sakit yang belum sampai kepada ajalnya, lalu dia membacakan doa <strong>As alukalloohal-’azhiima, robbal ‘arsyil-’azhiimi, ayyasyfiyaka </strong>tujuh kali, kecuali dia akan sembuh.’  (Shahih At Tirmidzi: 2/210)</p>
<p><strong>RUQYAH KEPADA SI SAKIT</strong></p>
<p>Orang yang menjenguk orang sakit dianjurkan untuk melakukan ruqyah terhadapnya. Terutama kalau si penjenguk termasuk orang yang bertakwa dan shalih. Karena ruqyah yang dilakukannya akan memberikan manfaat yang lebih besar daripada orang lain (karena faktor ketakwaan &amp; keshalihannya tersebut).</p>
<p>Di antara ruqyah syariah yang ada:</p>
<p>1. <strong>Ruqyah dengan mu’awwidzatain</strong> (surat al ikhlas, al falaq, dan an naas)</p>
<p>‘adalah rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika salah satu dari keluarganya sakit, beliau meniup keluarganya dengan (bacaan) mu’awwidzat…’ (HR. Muslim no.2192)</p>
<p><strong>2. Ruqyah dengan surat al fatihah</strong></p>
<p>Hal ini pernah dilakukan oleh Abu Said al Khudri terhadap kepala suku yang tersengat serangga. (lihat HR. Muslim no.2201)</p>
<p><strong>3. Ruqyah dengan doa</strong></p>
<p>‘Adalah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika salah seorang dari kami mengeluh sakit, maka beliau mengusapnya dengan tangan kanannya, kemudian beliau mengucapkan: “Hilangkanlah penderitaan ini wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, karena Engkaulah yang Maha Menyembuhkan. Tiada kesembuhan melainkan kesembuhan-Mu. Kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Muslim no.2191)</p>
<p><strong>KARANGAN BUNGA?</strong></p>
<p>Ada sebagian orang yang ketika mengunjungi orang sakit selalu menyempatkan diri untuk membawa karangan bunga kepada si sakit. Ada pula yang menelipkan tulisan yang berisi ungkapan dan harapan agar lekas sembuh. Hal ini dilarang, karena:</p>
<ol>
<li>tradisi semacam ini berasal      dari agama lain, padahal kita dilarang untuk menyerupai perilaku mereka.</li>
<li>mengganti doa untuk si sakit      agar diberikan kesucian, rahmat, ampunan, dan kesehatan dengan ungkapan-ungkapan      kering dan harapan-harapan yang tidak bisa dimajukan atau diundur.</li>
<li>mengganti ruqyah yang syari      melalui bacaan ayat-ayat al quran maupun hadits dengan karangan bunga yang      barangkali akan layu sehari atau dua hari kemudian.</li>
</ol>
<p><strong>MEMBACAKAN SURAT YASIN?</strong></p>
<p>Ada sebagian orang yang membacakan surat yasin kepada orang yang sakit, terutama jika si sakit sudah sangat parah, koma, atau jika dalam keadaan menjemput ajal.</p>
<p>Mereka berdasarkan pada:</p>
<p>“<strong>Tidak seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan buatnya surat yasin, kecuali pasti diringankan/dimudahkan kematiannya.” </strong></p>
<p>Keterangan:</p>
<p>hadits ini derajatnya <strong>“Maudhu/palsu</strong>”, diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalan Akhbar al Asbahan 1/188, di dalamnya ada seorang perowi yang suka memalsukan hadits yang bernama ‘Marwan bin Salim Al Jazari’. Imam Bukhori dan Muslim mengatakan bahwa Marwan bin Salim dalam meriwayatkan hadits tergolong ‘MUNGKARUL HADITS’ (lihat: Mizanul I’tidal 4/90). <a title="Penjelasan Gamblang Seputrar Hukum Yasinan, Tahlilan, &amp; Selamatan, hal:47; dan Bincang-bincang seputar Tahlilan, Yasinan, &amp; Maulidan, hal:23 " href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#footnote_2_912"><sup>3</sup></a></p>
<p>“<strong>Bacakanlah surat Yasin untuk orang-orang yang akan mati di antara kamu.”</strong>(Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i. Derajat hadits Dhaif.)<a title="Al Masaa-il, hadits 201; hal:286" href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#footnote_3_912"><sup>4</sup></a></p>
<p>Karena hadits-hadits di atas adalah dhaif &amp; maudhu/palsu, maka pembacaan surat yasin untuk orang-orang yang akan mati tidak dapat diamalkan. Hal ini sebagaimana keterangan para ulama bahwa hadits lemah tidak dapat dipakai sebagai dasar suatu amalam meskipun hanya fadhaail amal. Soal aqidah, ibadah, muamalah, maupun fadhaail amal harus berdasarkan dalil yang shahih. Di antara salah satu sebab munculnya bidah adalah karena pengamalan hadits-hadits lemah maupun palsu. Tidak dibenarkan menetapkan hukum syari, baik hukum mustahab (sunnat) atau hukum lainnya dengan hadits lemah. Inilah pendapat yang benar. Konsekuensinya, tidak ada perbedaan antara hadits tentang fadhaail amal dengan hadits tentang hukum. Inilah pendapat mayoritas ulama, seperti Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani, Imam Asy Syaukani, Al Allamah Shiddiq Hasan Khan dan Syaikh Muhammad Syakir serta lainnya.</p>
<p><strong>PERLUKAH EUTHANASIA?</strong></p>
<p>Terkadang, karena sakit yang diderita sangat berat, atau keluarga sudah tidak tega melihatnya; serta menurut ilmu medis, pasien tersebut tidak dapat sembuh, baginya kematian hanya soal waktu; seseorang disarankan atau meminta suntikan euthanasia, sehingga si sakit dapat segera terbebas dari penderitaan yang sering dialaminya selama ia masih hidup.</p>
<p>Euthanasia sebaiknya tidak dilakukan, hal ini karena: euthanasia menghalangi si sakit ataupun orang-orang di sekitar si sakit untuk mendapatkan manfaat dari status kehidupannya.</p>
<p>Dengan tetap hidup dengan kondisi semacam itu, si sakit akan dihapus catatan buruknya dan diangkat derajatnya, jika ia memiliki iman dan ihsan.</p>
<p>Dengan tetap hidup, yang bersangkutan terkadang mendapatkan doa yang baik dan diterima oleh Allah. Sehingga disembuhkan oleh Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, atau diampuni dosa-dosanya berkat doa sesama muslim yang ditujukan kepadanya.</p>
<p>Dengan tetap hidup, maka catatan buruk keluarganya yang dirundung kesedihan dan kegelisahan akan dihapus.</p>
<p>‘Tidaklah seorang muslim mengalami kepayahan, kesakitan, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya. ‘ (HR. Bukhari no.5642)</p>
<p>Dengan tetap hidup, maka kebajikannya akan tetap mengalir dan tidak terputus, terutama jika yang bersangkutan adalah seorang ayah atau ibu.</p>
<p>Dan dengan tetap hidup, maka pahala akan tetap melimpah kepada orang yang menjenguk dan mengunjungi si sakit. Penjenguk akan mendapatkan shalawat dari 70 ribu malaikat yang ditugaskna mendoakannya, insya Allah.</p>
<p>Semoga bermanfaat, Allahu A’lam <a title="Sumber bacaan &amp; pengambilan:    Al Masaa-il jilid 1, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah Press,  Cet.5. tahun 2005   Berbahagialah Wahai Orang Sakit, Dr. Muhammad Al Burkan, Pustaka At  Tibyan, tanpa tahun   Bincang-Bincang seputar Tahlilan, Yasinan," href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#footnote_4_912"><sup>5</sup></a></p>
<p>Wonorejo, 8 Juli 2008<a title="ditulis untuk mbak ku yang sedang sakit..semoga cepet sehat, mbak…" href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#footnote_5_912"><sup>6</sup></a></p>
<ol>
<li>….Pengalaman saya, saking lelahnya untuk menjawab      pertanyaan-pertanyaan yang berulang tersebut, suatu saat ketika ada      anggota keluarga yang sakit, ada niatan untuk menjelaskan kronologis &amp;      riwayat penyakit, gejala-gejala, pengobatan yang sudah dilakukan, dan lain      sabagainya dalam sebuah tulisan, sehingga ketika ada pembesuk yang      bertanya, tinggal diminta untuk membaca tulisan tersebut. Atau si sakit      diminta bercerita sekali untuk direkam. Ketika pembesuk datang, kita      tinggal mendengarkan rekaman tersebut. Yang terkadang lebih menjengkelkan      lagi, … pengunjung kurang puas ketika anggota keluarga yang menceritakan,      menjelaskan. mereka ingin mendengar langsung dari si sakit. padahal, si      sakit dalam keadaan lemah, dan sudah berulang kali menceritakan hal yang      sama. semoga kejadian ini tidak menimpa pembaca. …. [<a href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#identifier_0_912">↩</a>]</li>
<li>…. pengalaman saya, ketika anggota keluarga ada yang      sakit, ada beberapa pengunjung yang bercerita yang malah menimbulkan      ketakutan bagi si sakit; ‘wah, hati-hati. saudara dan teman-teman saya      yang mengalami seperti ini harus dioperasi. operasi nya begini…begini….      biaya begini…. hasilnya; kalau gak wassalam -maksudnya meninggal-, ya      cacat seumur hidup…. Kemudian menceritakan masing-masing orang. Si A…. si      B…. si C ….<br />
Kejadian seperti ini sering terjadi, pingin nya mengusir bahkan mendepak      keluar penjenguk yang memiliki perangai seperti itu,…namun sayang orangnya      lebih tua dari saya!!! Bagi saya… yang masih sadar, mungkin bisa      mengabaikan cerita tersebut, namun tidak ada jaminan cerita tersebut tidak      masuk dalam benak si sakit ataupun anggota keluarga yang lain. Semoga kita      dijauhkan dari hal yang demikian. amin. …. [<a href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#identifier_1_912">↩</a>]</li>
<li><em>Penjelasan Gamblang Seputrar Hukum Yasinan, Tahlilan,      &amp; Selamatan, hal:47; dan Bincang-bincang seputar Tahlilan, Yasinan,      &amp; Maulidan, hal:23 [</em><a href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#identifier_2_912"><em>↩</em></a><em>]</em></li>
<li><em>Al Masaa-il, hadits 201; hal:286 [</em><a href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#identifier_3_912"><em>↩</em></a><em>]</em></li>
<li><em>Sumber bacaan &amp; pengambilan: </em>
<ol>
<li><em>Al Masaa-il jilid 1, Abdul       Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah Press, Cet.5. tahun 2005</em></li>
<li><em>Berbahagialah Wahai Orang       Sakit, Dr. Muhammad Al Burkan, Pustaka At Tibyan, tanpa tahun</em></li>
<li><em>Bincang-Bincang seputar       Tahlilan, Yasinan, &amp; Maulidan, Ust. Abu Ihsan Al Atsari, Pustaka At       Tibyan, Cet.3, Juni 2007</em></li>
<li><em>Doa &amp; Dzikir Nabi, Dr.       Said bin Ali bin Wahf al Qahthani, Maktabah AL Hanif, cet.1, Juni 2005</em></li>
<li><em>Ensiklopedi Islam Al Kamil,       Syaikh Muhammad bin Ibrahim at Tuwaijiri, Darus Sunnah Press, Cet.3,       November 2007</em></li>
<li><em>Etika Menjenguk Orang Sakit,       Fuad Abdul Aziz Asy Syalhub, Pustaka Elba, Cet.1, Oktober 2006</em></li>
<li><em>Hadits Qudsi Shahihain       (Bukhari Muslim), Irfan bin Salim ad Dimasyqi, Media Hidayah, Cet.1,       April 2006</em></li>
<li><em>Menyongsong Doa Malaikat,       Prof. Dr. Fadhl Ilahi, Wafa Press, Cet.1, Juni 2008</em></li>
<li><em>Penjelasan Gamblang Yasinan,       Tahlilan &amp; Selamatan, AL Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali bin A.       Mutholib, Pustaka Al Ummat, Cet.5, Agustus 2007</em></li>
<li><em>Tetap Bahagia di Saat Sakit,       Abdul Muhsin bin Zainuddin bin Qaasim, Rumah Dzikir, tanpa tahun [</em><a href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#identifier_4_912"><em>↩</em></a><em>]</em></li>
<li><em>ditulis untuk mbak ku yang sedang sakit..semoga cepet       sehat, mbak… [</em><a href="http://jilbab.or.id/archives/912-doa-dari-70-ribu-malaika/#identifier_5_912"><em>↩</em></a><em>]</em></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Artikel kiriman dari Sutikno bin Tumingan.</p>
<p>Sumber : www.jibab.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=343&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/25/doa-dari-70-ribu-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imunisasi Nabawi</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/24/imunisasi-nabawi/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/24/imunisasi-nabawi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 10:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan. Segala puji hanya milik Allah Ta&#8217;ala Yang telah menciptakan makhluq-Nya yang membawa banyak hikmah, sehingga tiada satupun makhluq yang diciptakan dengan sia-sia. ] وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ [ "Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main". (Al Anbiya' 16). Maha Suci Allah Yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=341&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=20"></a></p>
<p><strong>Pendahuluan.</strong></p>
<p>Segala puji hanya milik Allah Ta&#8217;ala Yang   telah menciptakan makhluq-Nya yang membawa banyak hikmah, sehingga tiada   satupun makhluq yang diciptakan dengan sia-sia.</p>
<p dir="rtl">] وَمَا خَلَقْنَا   السَّمَاء وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ [</p>
<p><em>"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang   ada diantara keduanya dengan bermain-main".</em> (Al Anbiya' 16). Maha Suci Allah Yang telah   menciptakan makhluq-Nya dengan berpasang-pasang.</p>
<p dir="rtl">] وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ   لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ [</p>
<p><em>"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang supaya   kamu mengingat akan kebesaran Allah." </em>(Az Dzariyat 49).</p>
<p>Ketentuan ini berlaku pada seluruh   makhluq-Nya, tidak terkecuali berbagai penyakit yang menimpa manusia.   Tidaklah Allah Ta'ala menciptakan suatu penyakit, melainkan telah menurunkan   pula obatnya.<span id="more-341"></span></p>
<p>Shahabat Jabir radliyallahu ‘anhu meriwayatkan   dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :</p>
<p dir="rtl">(لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ   فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. )</p>
<p><em>"Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan   dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza   wa Jalla." </em>(riwayat Muslim<em> </em>).</p>
<p>Saudaraku! Syari'at Islam tidak hanya mengajarkan berbagai metode pengobatan   berbagai penyakit yang menimpa umatnya, Islam juga mengajarkan berbagai   tindak prefentif guna melindungi mereka dari serangan berbagai penyakit.</p>
<p>Bila saat   ini sedang booming pengobatan dengan <em>thibbun nabawi</em> (pengobatan ala   nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), maka pada kesempatan ini saya mengajak   anda untuk mengenal <em>imunisasi nabawi.</em></p>
<p>Mungkin   anda terkejut dengan tema pembahasan kali ini, dan saya kira anda akan   semakin terkejut bila mengetahui berbagai syari'at yang akan saya paparkan di   bawah ini.</p>
<p>Saudaraku! Tema ini adalah salah satu bukti bahwa Islam adalah syari'at yang   sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun padanya.</p>
<p>Kekurangan hanya ada pada diri kita sebagai umat Islam. Kita kurang atau   bahkan tidak memahami berbagai syari'at Islam dalam berbagai aspek kehidupan.   Akibat dari kekurangan kita ini, akhirnya kita berserah diri dan beranggapan   bahwa Islam tidak mengajarkan kepada kita Ilmu kesehatan, atau ilmu sosial,   atau perniagaan atau lainnya.</p>
<p>Karenanya, marilah kita terus menggali dan mengkaji syari'at Allah ini, agar   kita menyadari dan yakin bahwa ternyata Islam adalah pedoman hidup yang harus   kita terapkan dalam segala aspek kehidupan kita.</p>
<p>Berikut   saya sebutkan beberapa syari'at Islam yang memiliki peran dan fungsi mencegah   datangnya berbagai penyakit:</p>
<p><strong>A.</strong> <strong>Membaca basmalah ketika berhubungan suami   istri.</strong></p>
<p>Ketahuilah bahwa diantara biang berbagai   penyakit ialah lalai dari dzikir kepada Allah.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em> sedikit memberikan gambaran tentang kaitan antara penyakit fisik dengan   kelalaian anda dari mengingat Allah:</p>
<p dir="rtl">(يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ   على قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إذا هو نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ   عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فذكر اللَّهَ   انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صلى   انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ   خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ) متفق عليه</p>
<p><em>"Setan senantiasa mengikatkan pada tengkuk salah seorang   dari kalian bila ia tidur  tiga ikatan, lalu ia memukul setiap ikatan   (agar menjadi kuat) sambil berkata: "malam masih panjang, maka   tidurlah" bila ia terjaga, kemudian ia menyebut nama Allah, maka   terurailah satu ikatan, bila ia berwudlu, maka terurailah satu ikatan, dan   bila ia menunaikan sholat, maka terurailah satu ikatan, sehingga iapun pada   pagi itu dalam keadaan <strong>bersemangat dan berjiwa baik</strong>, bila tidak, maka   ia akan <strong>berjiwa buruk dan malas</strong>." </em>Muttafaqun 'alaih.</p>
<p>Dengan jelas Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em> menyatakan bahwa   diantara akibat langsung dari perbuatan anda melalaikan salah satu dari   ketiga hal di atas ialah jiwa anda menjadi buruk, dan semangat anda luntur,   serta merasa malas.</p>
<p>Dari hadits ini dan juga lainnya, dapat   disimpulkan bahwa dzikir kepada Allah dalam segala keadaan, memiliki peran   yang sangat besar dalam menangkal berbagai penyakit jiwa  dan raga kita.</p>
<p>Dan diantara dzikir yang sangat efektif   menangkal berbagai penyakit, terutama pada anak-anak kita ialah bacaan <em>basmalah </em>yang diucapkan oleh pasangan suami istri ketika hendak bergaul.</p>
<p><em>Subhanallah</em>, bacaan basmalah pada saat itu, bukan hanya mencegah ulah setan   dari diri mereka berdua, akan tetapi  juga berkelanjutan pada anak yang Allah   karuniakan kepada mereka dari hasil pergaulan tersebut.</p>
<p dir="rtl">عن ابن عَبَّاسٍ رضي   الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إذا أتى   أَهْلَهُ وقال: بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ   الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا، فَرُزِقَا وَلَدًا، لم يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ ولم   يُسَلَّطْ عليه. متفق عليه</p>
<p><em>"Dari sahabat Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhuma, dari Nabi   shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Ketahuilah bahwa   sesungguhnya salah seorang dari kamu bila mendatangi istrinya, dan ia membaca </em></p>
<p dir="rtl">بِسْمِ اللَّهِ اللهم   جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا</p>
<p><em>"Dengan menyebut Nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari   setan, dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada   kami"  kemudian mereka berdua dikaruniai anak, <strong>niscaya ia (anak)   itu tidak akan diganggu (dikuasai) oleh setan, dan setan tidak akan dapat   untuk menguasainya.</strong>"</em> Muttafaqun 'alaih.</p>
<p>Tidak mengherankan bila setan memiliki andil besar dalam berbagai penyakit   dan gangguan yang menimpa anak manusia. Yang demikian itu karena setan ingin   mencelakakan mereka dengan segala cara yang dapat ia lakukan. Saking besarnya   peran setan, sampai-sampai Nabi Ayyub <em>‘alaihissalam</em> tatkala ditimpa   beraneka ragam penyakit, beliau berkata dalam doanya kepada Allah:</p>
<p dir="rtl">]أَنِّي مَسَّنِيَ   الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ[ ص 41.</p>
<p><em>"Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan   siksaan." </em> (Shaad 41)</p>
<p>Ulama' ahli tafsir menyebutkan bahwa dahulu Nabi Ayyub <em>‘alaihissalam</em> ditimpa berbagai penyakit, sampai-sampai tidak ada di tubuhnya walau hanya   sebesar ujung jarum yang utuh.</p>
<p>Dan Rasulullah<em> shallallahu 'alaihi wa sallam</em> dengan tegas menyatakan   bahwa salah satu penyebab kebinasaan umatnya ialah karena menjadi korban   tusukan musuh-musuh mereka dari bangsa jin:</p>
<p dir="rtl">(فَنَاءُ أمتي   بِالطَّعْنِ وَالطَّاعُونِ) فَقِيلَ يا رَسُولَ اللَّهِ: هذا الطَّعْنُ قد   عَرَفْنَاهُ، فما الطَّاعُونُ؟ قال: (وَخْزُ أَعْدَائِكُمْ مِنَ الْجِنِّ، وفي   كُلٍّ شُهَدَاءُ). رواه أحمد والطبراني وصححه الألباني</p>
<p><em>"Kebinasaan umatku ialah dengan sebab tusukan dan tho'un.   Para sahabat bertanya kepada beliau: Ya Rasulullah! Kalau tusukan, kami telah   mengetahui maksudnya, akan tetapi apakah tho'un itu?  Beliau menjawab:   Tusukan yang tidak menembus yang dilakukan oleh musuh-musuh kalian dari   kalangan jin, dan pada keduanya terdapat para syahid."</em> (Riwayat Ahmad, At Thobrani dan dishohihkan   oleh Al Albani).</p>
<p>Pada riwayat lain beliau lebih detail menjelaskan maksud dari <em>tho'un,:</em></p>
<p dir="rtl">(وَخْزُ أَعْدَائِكُمْ   مِنَ الْجِنِّ،، غُدَّةٌ كَغُدَّةِ الإِبِلِ، تَخْرُجُ بِالآبَاطِ وَالمَرَاقِ).   رواه الطبراني وحسنه الألباني</p>
<p><em>"Tho'un adalah tusukan yang tidak menembus yang dilakukan   oleh musuh-musuh kalian dari bangsa jin, ia berupa daging tumbuh bagaikan   daging tumbuh yang menimpa onta, ia keluar di ketiak, dan bagian bawah   perut."</em> (Riwayat At Thobrani   dan dihasankan oleh Al Albani.</p>
<p>Bila anda renungkan dengan baik-baik pengertian <em>tho'un </em>di atas,   niscaya anda berkesimpulan bahwa <em>tho'un </em>adalah penyakit yang   menyerupai kangker kalaulah bukan kangker itu sendiri.</p>
<p>Bila demikian adanya, maka tidak ada imunisasi   yang paling ampuh guna menanggulangi gangguan setan dari anak anda dibanding   dzikir kepada Allah. Terutama sebelum mereka terlahir di dunia, tepatnya   ketika anda hendak berhubungan dengan istri anda.</p>
<p>Walau demikian halnya, betapa banyak dari kita yang belum memahami akan   keutamaan basmalah sebelum berjima', atau menganggapnya sebagai hal yang   merepotkan belaka. Bahkan betapa banyak orang yang telah memahaminya, akan   tetapi ketika hendak berjima', ia lupa untuk mengucapkannya. Tidak heran bila   setan dengan leluasa mengganggu anak keturunan kita, dengan berbagai macam   bentuk gangguannya.</p>
<p>Ibnu Hajar berkata: "Banyak dari orang yang telah memahami keutamaan   bacaan dzikir ini, akan tetapi ia lalai darinya ketika hendak berjima', dan   sebagian dari yang ingat akan bacaan doa ini serta mengucapkannya tidak dikaruniai   anak.()</p>
<p>Bila Ibnu Hajar mengangkat   permasalahan lupa yang sering menimpa pasangan suami istri ketika hendak   berjima', maka dizaman kita ada fenomena lain yang lebih pahit, yaitu   merajalelanya hubungan haram, sehingga tidak heran, bila setan dengan mudah   menimpakan godaan dan gangguannya kepada generasi muda kita, yang banyak dari   mereka adalah hasil dari hubungan yang dimurkai Allah, alias kumpul kebo.<em> Laa haula walaa quwwata illa billah.</em></p>
<p>Ini adalah salah satu <em>imunisasi nabawi</em> yang hingga saat ini dan mungkin hingga hari qiyamat tidak dipahami dan tidak   dapat dicapai oleh berbagai kemajuan ilmu medis barat. Dan <em>imunisasi   nabawi </em>ini<em> </em>merupakan salah satu bukti bahwa Islam adalah agama   yang sempurna dan paling bermanfaat bagi umat manusia. Oleh karenanya, saya   katakan: <strong><em>bangkitlah umatku</em></strong>! Mari kita pelajari ilmu agama kita   dalam segala aspeknya, baik yang berkaitan dengan hukum halal haram atau   lainnya. Dengan demikian, kita tidak mudah silau dengan keberhasilan sesat   bangsa dan umat lain. Selamat berjuang menggapai kejayaan di dunia dan   akhirat.</p>
<p><strong>B.</strong> <strong>Menutup bejana dan   tempat menyimpan makanan dan minuman .</strong></p>
<p>Bila orang-orang yang ilmu dan jiwanya telah   mengkultuskan peradaban barat biasanya beranggapan bahwa masyarakat baratlah   kiblat kebersihan dan kesehatan,.  maka hal itu tidaklah layak dilakukan   oleh orang yang dihatinya masih tersisa setitik keimanan. Yang demikian itu,   dikarenakan agama kita, jauh-jauh hari sebelum bangsa barat mengenal   kebersihan, telah mengajarkan berbagai syari'at yang hingga saat ini belum   bisa ditandingi oleh teori atau peradaban apapun.</p>
<p>Diantara tindakan prefentif yang diajarkan   Islam guna menjaga kesehatan umat manusia ialah dengan menjaga makanan dan   minuman mereka dari berbagai kotoran dan mikro organik yang dapat mengancam   kesehatan.  Agar makanan dan minuman tetap bersih dan higenis, Islam   mengajarkan umatnya untuk senantiasa menutupinya, dan tidak membiarkannya   terbuka, terkena udara bebas dan berbagai hal lainnya. Tindakan ini adalah   langkah awal yang sangat penting  dari upaya menjaga kesehatan dan   menangkal penyakit. Rasulullah <em>shallallahu 'alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p dir="rtl">(غَطُّوا الْإِنَاءَ،   وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، وَأَغْلِقُوا الْبَابَ، وأطفؤا السِّرَاجَ، فإن   الشَّيْطَانَ لَا يَحُلُّ سِقَاءً، ولا يَفْتَحُ بَابًا، ولا يَكْشِفُ إِنَاءً،   فَإِنْ لم يَجِدْ أحدكم إلا أَنْ يَعْرُضَ على إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ   اسْمَ اللَّهِ، فَلْيَفْعَلْ) رواه مسلم.</p>
<p><em>"Tutuplah bejana, ikatlah geribah (tempat menyimpan air   yang terbuat dari kulit-pen), tutuplah pintu, matikanlah lentera (lampu),   karena <strong>sesungguhnya setan tidaklah mampu mengurai geribah yang terikat,   tidak dapat membuka pintu, dan tidak juga dapat menyingkap bejanan (yang   tertutup).</strong> Bila engkau tidak mendapatkan (tutup) kecuali hanya dengan   melintangkan diatas bejananya sebatang ranting, dan menyebut nama Allah,   hendaknya ia lakukan." </em>(riwayat Muslim).</p>
<p>Pada riwayat lain:</p>
<p dir="rtl">(غَطُّوا الإِنَاءَ   وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فإن في السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فيها وَبَاءٌ، لاَ   يَمُرُّ بِإِنَاءٍ ليس عليه غِطَاءٌ، أو سِقَاءٍ ليس عليه وِكَاءٌ، إلاَّ نَزَلَ   فيه من ذلك الْوَبَاءِ). رواه مسلم</p>
<p><em>"Tutuplah bejana, dan  ikatlah geribah, karena pada   setiap tahun ada satu malam (hari) yang <strong>padanya turun wabah</strong>. Tidaklah   wabah itu melalui bejana yang tidak bertutup, atau geribah yang tidak   bertali, melainkan <strong>wabah itu akan masuk ke dalamnya</strong>." </em>(Riwayat Muslim).</p>
<p>Dari mencermati hadits di atas, dapat dipahami bahwa menutup rapat makanan   dan minuman, terlebih-lebih bila disertai dengan bacaan <em>basmalah</em>,   dapat menanggulangi dua penyebab utama bagi segala penyakit:</p>
<p>1. Ulah dan kejahatan setan.</p>
<p>2. Wabah penyakit yang turun dan menyebar melalui media udara.</p>
<p>Imam An Nawawi berkata: "Para ulama'   menyebutkan beberapa faedah dari perintah menutup bejana dan geribah,   diantaranya kedua faedah yang ditegaskan pada hadits-hadits ini, yaitu:</p>
<p>1. Menjaganya (makanan dan minuman) dari setan, karena setan tidak   dapat menyingkap tutup bejana, dan tidak dapat mengurai ikatan geribah.</p>
<p>2.  Menjaganya dari wabah yang turun pada satu malam di setiap   tahun.</p>
<p>3.  Faedah ketiga: menjaganya dari terkena najis dan kotoran.</p>
<p>4.  Keempat: menjaganya dari berbagai serangga dan binatang   melata, karena bisa saja serangga jatuh ke dalam bejana atau geribah, lalu ia   meminumnya, sedangkan ia tidak menyadari keberadaan serangga tersebut, atau   ia meminumnya pada malam hari, (sehingga ia tidak melihatnya-pen) akibatnya   ia terganggu dengan binatang tersebut."()</p>
<p>Imam An Nawawi juga menjelaskan bahwa syari'at   menutup bejana dan mengikat geribah ini bukan hanya berlaku pada malam hari,   akan tetapi juga berlaku pada siang hari, berdasarkan keumuman teks hadits di   atas.</p>
<p>Syari'at ini juga menguatkan paparan saya   sebelumnya, bahwa lalai dari berdzikir kepada Allah adalah biang berbagai   penyakit, karena dengan menyebut nama Allah ketika menutup makanan dan   minuman, berarti makanan dan miuman kita terhindar dari ulah setan dan wabah   yang turun.</p>
<p>Hikmah pertama dan kedua yang disebutkan pada   hadits di atas, yaitu menjaga makanan dan minuman dari wabah yang turun pada   satu hari/malam di setiap tahun, merupakan hikmah yang hingga saat ini tidak   diketahui dan ditemukan oleh ilmu kedokteran barat. Dan hikmah ini hanya   dapat diketahui melalui wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya <em>shallallahu   'alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Sebagaimana hadits ini merupakah isyarat bahwa   wabah penyakit, hanya terjadi pada masa-masa tertentu saja, dan tidak terjadi   pada sepanjang tahun. Dan ini adalah salah satu fakta yang telah dibuktikan   dalam dunia medis. Kita semua mengetahui bahwa berbagai wabah yang ada di   masyarakat, kebanyakannya terjadi pasa masa-masa tertentu saja, dimana pada   saat itu berbagai virus dan bakteri penyebab penyakit berkembang biak, lalu menyerang   masyarakat.</p>
<p>Kedua hikmah ini merupakan secercah rahasia   ilmu kedokteran islam yang tidak atau belum kita kembangkan dan   sosialisasikan ke masyarakat. Sebagaimana hal ini merupakan salah satu bentuk   <strong><em>imunisasi syariat</em></strong> yang belum atau bahkan tidak kita kembangkan   dan sosialisasikan kepada umat manusia.</p>
<p><strong>C.</strong> <strong>Makan tujuh biji kurma Ajwah.</strong></p>
<p>Diantara tindakan prefentik yang diajarkan   Islam untuk mencegah berbagai penyakit sebelum datang ialah dengan   mengkonsumsi tujuh biji buah kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di   waktu pagi. Mengkonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota   Madinah di waktu pagi, dapat mencegah serangan  pengaruh sihir dan   racun. Yang demikian ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa   sallam</em>:</p>
<p dir="rtl">(من تَصَبَّحَ كُلَّ   يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتِ عَجْوَةٍ، لم يَضُرَّهُ في ذلك الْيَوْمِ سُمٌّ ولا   سِحْرٌ) متفق عليه</p>
<p><em>"Barang siapa yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah   kurma ajwa, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau   sihir." </em>(Muttafaqun 'alaih).</p>
<p>Pada riwayat lain :</p>
<p dir="rtl">من أَكَلَ سَبْعَ   تَمَرَاتٍ مِمَّا بين لَابَتَيْهَا حين يُصْبِحُ لم يَضُرَّهُ سُمٌّ حتى   يُمْسِيَ. رواه مسلم</p>
<p><em>"Barang siapa pada pagi hari, makan tujuh biji kurma yang   dihasilkan diantara kedua hamparan Madinah, niscaya ia tidak akan terganggu   oleh racun hingga sore hari." </em>(riwayat Muslim).</p>
<p>Dengan jelas Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam </em>menyebutkan bahwa   manfaat mengkonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah   pada pagi hari adalah untuk menangkal pengaruh sihir dan racun. Sehingga   manfaat kurma ajwah ini sama halnya dengan manfaat yang diperoleh dari   imunisasi.</p>
<p>Berikut   saya nukilkan fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> tentang hal   ini:</p>
<p><strong> Pertanyaan : </strong>Apa hukumnya berobat   dengan imunisasi sebelum datangnya penyakit?</p>
<p><strong> Jawaban: </strong>Tidak mengapa berobat dengan imunisasi bila   kawatir terkena suatu penyakit, disebabkan adanya wabah, atau sebab lainnya   yang dikawatirkan menjadi penyebab datangnya penyakit. Sehingga tidak   mengapa, anda minum obat guna menangkal penyakit yang dikawatirkan. Hal ini   berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu 'alaihi wa sallam </em>pada suatu hadits   yang shohih:</p>
<p dir="rtl">(من تصبح بسبع تمرات من   تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم)</p>
<p><em>"Barang siapa yang pada waktu pagi makan  tujuh biji   kurma madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh sihir, tidak oleh   racun." </em>Hadits ini<em> </em>termasuk   upaya penanggulangan penyakit sebelum terjadi.</p>
<p>Demikian juga halnya orang yang kawatir terhadap serangan suatu penyakit, dan   ia diberi imunisasi anti wabah yang sedang menyerang di negri tersebut atau   di negri manapun. Upaya itu tidak mengapa, sebagai upaya pertahanan. sebagaimana   halnya penyakit yang telah menimpa diobati, demikian juga halnya penyakit   yang dikawatirkan akan menyerang, boleh ditanggulangi dengan pengobatan.</p>
<p>Akan   tetapi tidak dibenarkan untuk menggantungkan ajimat, penangkal penyakit, atau   jin, atau <em>'ain, </em>dikarenakan itu semua dilarang oleh Nabi <em>shallallahu   'alaihi wa sallam</em>. Dan beliau <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em> telah   menjelaskan bahwa perbuatan itu termasuk syirik ashghar (kecil), karena itu,   hendaknya kita waspada."()</p>
<p><strong>D.</strong> <strong>Banyak beristighfar.</strong></p>
<p>Bila pada pemaparan di atas telah jelas bahwa   kemaksiatan kepada Allah adalah biang datangnya berbagai musibah dan wabah   penyakit, maka dapat dipahami bahwa istighfar dan mohon ampunan kepada-Nya   adalah penangkal dan penawar berbagai wabah dan penyakit.Bukan hanya   menangkal penyakit, akan tetapi istighfar juga akan mendatangkan kedamaian,   kebahagian, keberkahan dan kemudahan dalam hidup.</p>
<p>Allah Ta'ala berfirman kepada umat Nabi   Muhammad <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em>:</p>
<p dir="rtl">]وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ   رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ   مُّسَمًّى[ هود 3</p>
<p><em>Dan hendaknya kamu meminta ampun kepada Tuanmu dan bertaubat   kepada-Nya (Jika kamu mengerjakan yang demikian) niscaya Allah akan memberi   kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah   ditentukan." </em>(huud 3.</p>
<p>Syeikh Muhammad Amin As Syinqithy menafsirkan ayat ini dengan berkata:   "Pendapat yang paling kuat tentang maksud kenikmatan yang baik ialah:   rizqi yang melimpah, hidup yang lapang, dan keselamatan di dunia, dan yang   dimaksud dengan (<em>waktu yang telah ditentukan) </em>adalah kematian."()</p>
<p>Allah Ta'ala mengisahkan perihal Nabi Hud <em>'alaihissalaam </em>bersama kaum 'Aad. Dikisahkan, kaum 'Aad adalah satu kaum yang terkenal   memiliki kekuatan yang luar biasa.</p>
<p dir="rtl">]وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا   قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ   مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ [ فصلت 15</p>
<p><em>"Kaum 'Aad berkata:"Siapakah yang lebih besar   kekuatannya dari kami" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa   Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka Dan   adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami." </em> Fusshilat 15</p>
<p>Walau demikian, andai mereka beriman kepada Allah dan mensucikan jiwa mereka   dari berbagai noda kemaksiatan dengan beristighfar, niscaya kekuatan mereka   menjadi berlipat ganda:</p>
<p dir="rtl">]وَيَاقَوْمِ   اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ توبوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السمآء عَلَيْكُمْ   مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إلى قُوَّتِكُمْ [ هود : 52</p>
<p><em>"Wahai kaumku, beristighfarlah kamu kepada Tuhanmu, lalu   bertaubatlah (Kembalilah) kepada-Nya, niscaya Allah akan menurunkan hujan   yang sangat lebat, dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu." </em> Huud 52.</p>
<p>Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Abul Bilaad merasa   keheranan tatkala membaca firman Allah Ta'ala :</p>
<p dir="rtl">]وَمَا أَصَابَكُم مِّن   مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ [ الشورى 30</p>
<p><em>"Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat   dari ulah tanganmu sendiri." </em>(As Syura 30). Ia bertanya-tanya, bagaimana penerapan ayat ini   pada dirinya, yang telah menderita buta mata sejak ia dilahirkan. Karena rasa   herannya inilah ia bertanya kepada Al 'Ala' bin Bader: "Bagaimana   penafsiran firman Allah Ta'ala:</p>
<p dir="rtl">]وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا   كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ [ الشورى 30</p>
<p><em>&#8220;Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat   dari ulah tanganmu sendiri,&#8221;</em> padahal aku ditimpa kebutaan sejak aku masih bayi? Maka Al   &#8216;Ala&#8217; menjawab: <strong><em>&#8220;Itu adalah akibat dari dosa kedua orang   tuamu.&#8221;</em></strong>() <strong> </strong></p>
<p>Inilah <em>imunisasi nabawi</em> sejati yang sepantasnya digalakkan sejak dini,   agar kita menjadi bangsa yang perkasa dan berjaya. Dan selanjutnya, generasi   penerus kita tidak turut merasakan sebagian dari kesialan berbagai amal   kemaksiatan kita.</p>
<p>Renungkan   dan pikirkan baik-baik saudaraku! Apakah anda sampai hati untuk mewariskan   kesialan amal maksiat anda kepada putra-putri anda?</p>
<p>Saya   yakin anda adalah orang tua yang penyayang, sehingga andapun pasti terpanggil   untuk menjauhkan warisan sial ini dari putra-putri anda. Tidak heran bila   andapun banyak beristighfar, dan berjuang sekuat tenaga  untuk   mensucikan diri anda dan keluarga anda dari kesialan amal maksiat.   Selamat  berjuang, semoga Allah Ta&#8217;ala memberkahi dan memudahkan perjuangan   anda.</p>
<p><strong>E.</strong> <strong>Memohonkan   Perlindungan Untuk Anak-anak.</strong></p>
<p>Diantara metode <em>imunisasi nabawi </em>yang   tidak diketahui oleh banyak umat Islam dan sering dilalaikan oleh orang yang   telah mengetahuinya ialah dengan memohonkan perlindungan kepada Allah untuk   anak-anak kita dari gangguan setan, binatang berbisa dan pengaruh <em>&#8216;ain   keji </em>(mata keji). Padahal metode ini telah diajarkan semenjak zaman Nabi   Ibrahin <em>&#8216;alaihissalam, </em>dan diamalkan oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu   &#8216;alaihi wa sallam</em>.</p>
<p dir="rtl">عَنِ ابن عَبَّاسٍ أن   رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كان يُعَوِّذُ حَسَناً وَحُسَيْناً يقول (أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ   اللَّهِ التَّامَّةِ من كل شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كل عَيْنٍ لاَمَّةٍ)   وكان يقول: (كان إِبْرَاهِيمُ أبي يُعَوِّذُ بِهِمَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ).   رواه أحمد وأبو داود والنسائي وصححه الألباني.</p>
<p>&#8220;Dari sahabat Ibnu Abbas<em> radliyalllahu &#8216;anhu bahwasanya   Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa </em>sallam  memohonkan perlindungan   untuk cucunya Hasan dan Husain dengan berdoa: &#8220;Aku memohonkan   perlindungan untukmu berdua dengan Kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna   dari setiap setan, binatang berbisa yang mematikan, dan dari setiap   (pengaruh) mata yang mendatang kerusakan.&#8221;<em> </em>(Riwayat Ahmad, Abu   Dawud, An Nasai dan dishohihkan oleh Al Albani.</p>
<p>Ini adalah salah satu <em>imunisasi nabawi </em>yang masih belum banyak   diketahui<em> </em>oleh umat Islam, dan sering dilalaikan oleh orang yang telah   mengetahuinya. Sungguh demi Allah, bila <em>imunisasi nabawi </em>ini kita   amalkan dengan penuh keimanan dan penghayatan, niscaya anak-anak kita   terlindung dari berbagai penyakit dan wabah.</p>
<p>Wahai   saudaraku seiman dan seakidah! Cobalah anda bertanya kepada hati nurani   sendiri: Percayakah anda dengan imunisasi nabawi ini?</p>
<p>Amalkanlah wahai saudaraku, niscaya Allah akan melindungi anak-anak anda dari   berbagai petaka dan musibah.</p>
<p><strong>F. Tidak   berlebih-lebihan Dalam Hal Makanan dan Minuman.</strong></p>
<p>Diantara syari&#8217;at Islam yang sejak dahulu kala   terbukti manjur untuk menjaga kesehatan dan mencegah datangnya berbagai   penyakit ialah menempuh hidup sederhana. Tidak berlebih-lebihan dalam hal   makan dan minum.</p>
<p dir="rtl">الْمِقْدَامَ بن معدي   كرب الكندي قال سمعت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول ما مَلأَ بن آدَمَ   وِعَاءً شَرًّا من بَطْنٍ حَسْبُ بن آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فان كان   لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثُ طَعَامٍ وَثُلُثُ شَرَابٍ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ رواه أحمد   والترمذي وصححه الألباني</p>
<p><em>&#8220;Sahabat Al Miqdan bin Ma&#8217;dykareb Al Kindi mengisahkan: Aku   pernah mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah   seorang anak Adam memenuhi suatu kantung yang lebih buruk dibanding perutnya.   Bila tidak ada pilihan, maka cukuplah baginya sepertiga dari perutnya untuk   makanan, sepertiga lainnya untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk   nafasnya.&#8221; </em>Riwayat Ahmad, At   Tirmizy, An Nasai dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits shahih.<em> </em></p>
<p><em> </em>Ibnul Qayyim berkata :   <em>&#8220;Ketahuilah bahwa makan itu   ada  tiga tingkatan:</em></p>
<p><em>A-</em> <em>Kebutuhan.</em></p>
<p><em>B-</em> <em>Kecukupan.</em></p>
<p><em>C-</em> <em>Kelebihan.</em></p>
<p><em>Pada   hadits di atas, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengabarkan bahwa   hendaknya anda mencukupkan diri dengan beberapa suap makanan yang dapat   menegakkan tulang punggung anda. Dengan demikian anda tidak menjadi loyo dan   tidak pula lemas. Bila anda masih merasa perlu untuk makan lebih banyak, maka   hendaknya anda makan sepertiga dari daya tampung perut anda. Dengan demikian   anda menyisakan sepertiga dari ruang perut anda untuk air minum dan sepertiga   lainnya untuk nafas anda. Pembagian ini sangat berguna bagi kesehatan badan   dan jiwa anda. Karena bila perut anda dipenuhi oleh makanan, maka tidak   tersisa lagi ruang untuk minuman. Sehingga bila anda minum, maka pernapasan   andapun menjadi sesak. Bila demikian adanya, anda menjadi mudah lelah dan   sesak napas, bagaikan orang yang memikul beban terlalu berat. Ditambah lagi   perut kenyang memiliki pengaruh buruk terhadap kepribadaian dan jiwa anda.   Anda menjadi malas beribadah, dan dorongan birahi anda menguat. Pendek kata,   perut yang senantiasa penuh itu berakibat buruk bagi kesehatan raga dan   jiwa.&#8221; </em>() <em> </em></p>
<p>Al Munawi juga menjelaskan hadits ini dengan   berkata : &#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> menganggap perut   orang yang makan hingga penuh sebagai kantong yang paling buruk, karena ia   telah menggunakan perutnya tidak pada tempatnya. Perut manusia diciptakan   untuk menegakkan tulang punggung karena mendapatkan asupan gizi yang cukup   dari makanan yang ia makan. Sedangkan bila ia memenuhi perutnya, maka hal ini   berdampak merusak agama dan dunianya. Penjelasannya sebagai berikut:    Tidaklah seseorang biasa memenuhi perutnya, kecuali bila ia telah dikuasai   oleh sifat keserakahan dan ambisi dunia. Dan kedua perangai ini berakibat   buruk bagi pelakunya. Rasa kenyang yang berkepanjangan, menjerumuskan   palakunya ke dalam kesesatan dan menjadikannya merasa malas. Akibatnya ia   selalu malas untuk beribadah, dan tubuhnya dipenuhi oleh timbunan zat-zat   yang tidak ia butuhkan. Bila telah demikian, ia menjadi mudah marah, dikuasai   syahwat birahi, dan ambisinya menjadi meluap, sehingga iapun terobsesi untuk   menumpuk harta benda yang tidak ia perlukan.&#8221; ()</p>
<p>Saudaraku! Diantara ketentuan syari&#8217;at Islam   dalam urusan makan dan minum adalah hendaknya anda tidak berlebih-lebihan   dalam keduanya. Segala yang anda suka, anda makan atau  minum, segala   yang bisa anda beli maka anda konsumsi, dan segala yang ditawarkan oleh   pedagang, maka anda incipi. Sudah barang tentu sikap seperti ini adalah   cerminan nyata dari ambisi makan dan minum yang berlebihan atau disebut   dengan <em>isrof.</em></p>
<p dir="rtl">عَنْ عبد الله بن عمرو   بن العاص رضي الله عنه أَنَّ   رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : كُلُوا، وَاشْرَبُوا، وَتَصَدَّقُوا،   وَالْبَسُوا، غَيْرَ مَخِيلَةٍ، وَلاَ سَرَفٍ. رواه أحمد والنسائي وغيره وحسنه   الألباني.</p>
<p><em>Sahabat Abdullah bin Amer bin Al &#8216;Ash, menceritakan bahwa Rasulullah   shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Makan,. Minum, bersedekah dan   berpakaianlah asal tidak engkau tidak bersikap angkuh dan berlebih-lebihan.</em> Riwayat Ahmad, An Nasai dan oleh Al Albani   dinyatakan sebagai hadits hasan.</p>
<p>Pada suatu hari, sahabat Umar bin Khatthab <em>radliyalllahu   &#8216;anhu </em>berkata: <em>&#8220;Janganlah engkau makan hingga merasa kekenyangan,   karena kekenyangan menjadikanmu malas mendirikan sholat, dan menyebabkan   badanmu ditimpa penyakit. Hendaknya kalian bersikap sewajarnya dalam urusan   makan, dengan demikian kalian terjauhkan dari kesombongan, badan kalian   menjadi lebih sehat, dan engkau lebih giat beribadah. Tidaklah seseorang itu   menjadi binasa, hingga ia lebih mendahulukan syahwat birahinya dibanding   ajaran agamanya.&#8221;</em></p>
<p>Sebagian ulama&#8217; berkata:</p>
<p dir="rtl">إنْ كُنْتَ بَطِنًا   فَعُدَّ نَفْسَك زَمِنًا حتَّى تَخْمِصَ</p>
<p><em>&#8220;Bila engkau memiliki perut yang gendut, maka anggaplah   bahwa dirimu sedang menderita penyakit menahun, hingga perutmu kembali   mengecil.&#8221; </em>()</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: <em>&#8220;Zat makanan yang tertimbun dalam tubuh   menyebabkan banyak petaka, diantaranya : mendorong anggota tubuh untuk   berbuat maksiat, dan merasa malas dari beribadah. Kedua hal ini cukup sebagai   dampak negatif  yang besar bagi anda. Betapa banyak kemaksiatan yang   disebabkan oleh rasa kenyang, dan betapa banyak amal ketaatan yang terhalangi   oleh rasa kenyang? Karenanya, orang yang terlindung dari efek buruk perutnya,   berarti ia telah terlindung dari petaka yang besar. Ditambah lagi, setan   semakin leluasa menguasai diri anda, tatkala anda mengisi perut anda dengan   makanan hingga penuh. Tidak heran, bila ulama&#8217; terdahulu   berpetuah:&#8221;Sempitkanlah jalur setan dengan berpuasa.&#8221; Dan nabi juga   bersabda: </em></p>
<p dir="rtl">ما مَلأَ بن آدَمَ   وِعَاءً شَرًّا من بَطْنٍ</p>
<p><em>&#8220;Tidaklah seorang anak Adam memenuhi suatu kantung yang   lebih buruk dibanding perutnya&#8221;. Andailah perut penuh dengan makanan itu   tidak berdampak selain menjadikan anda lalai walau hanya sesaat, niscaya   setan akan bersemangat menyeru anda untuk melakukannya, agar berkesempatan   menggiring anda kemanapun ia suka. Karena bila perut anda senantiasa kenyang,   maka jiwa anda akan agresif, dan syahwat birahi andapun berkobar. Sedangkan   bila perut anda terbiasa lapar, niscaya jiwa anda menjadi tenang, khusyu&#8217; dan   tunduk kepada anda</em>.&#8221; ()</p>
<p>Pada kesempatan lain, beliau berkata : <em>&#8220;Berbagai penyakit fisik   terjadi akibat dari zat makanan yang tertimbun dalam badan anda. Akibatnya   timbunan makanan itu mengganggu gerak berbagai organ badan anda. Inilah   kebanyakan penyakit yang diderita oleh masyarakat. Semua itu terjadi karena   mereka terbiasa mengkonsumsi makanan padahal makanan yang ia konsumsi   sebelumnya belum sempenuhnya dicerna oleh organ pencernaannya. Keadaan ini   diperparah oleh :</em></p>
<p><em>1-</em> <em>Mereka mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang melebihi   kebutuhan badannya.</em></p>
<p><em>2-</em> <em>Mereka banyak mengkonsumsi makanan yang sulit dicerna.</em></p>
<p><em>3-</em> <em>Mereka mengkonsumsi beraneka ragam jenis makanan yang   terbuat dari bahan-bahan yang beraneka ragam pula. </em></p>
<p><em>Bila   anda memenuhi perut anda dengan berbagai jenis makanan ini, dan itu telah   menjadi gaya hidup anda, niscaya kebiasaan buruk ini menyebabkan anda   menderita beraneka ragam penyakit pula. Dari berbagai penyakit yang anda   derita, ada yang dengan cepat disembuhkan dan ada pula yang sulit diobati. Akan   tetapi bila anda menempuh hidup sederhana, mengkonsumsi makanan seperlunya,   dan makanan yang anda konsumsipun seimbang dalam kadar dan jenisnya, maka   badan anda lebih sehat dari pada mengkonsumsi makanan dalm jumlah   banyak.&#8221;</em> () <em> </em></p>
<p>Tidak mengherankan bila diantara metode yang   dicontohkan Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>adalah tidak makan   sambil duduk bersila. Karena makan dengan duduk bersila menjadikan anda   hanyut dan tidak kunjung merasa puas atau kenyang.</p>
<p>Ketika anda duduk bersila, maka lambung anda   akan terbuka selebar-lebarnya, anda tidak segera merasa kenyang, dan akhirnya   andapun makan dengan lahap serta dalam jumlah yang banyak.</p>
<p dir="rtl">عن أَبي جُحَيْفَةَ   العاص رضي الله عنه يقول قال   رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : (لا آكُلُ مُتَّكِئًا) رواه البخاري.</p>
<p><em>Sahabat Abu Juhaifah radliyalllahu &#8216;anhu mengisahkan: Rasulullah   shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  bersabda: &#8220;Aku tidak makan sambil   duduk bersandar (bersila).&#8221; </em> Riwayat Imam Bukhari.</p>
<p>Imam Al Khattabi menjelaskan hadits ini dengan berkata: Masyarakat awam   mengira bahwa yang dimaksud duduk bersandar ialah makan sambil duduk   bersandar ke sebelah bagian badan. Padahal tidak demikian halnya. Yang   dimaksud adalah duduk mantap dengan bersila. Dengan demikian makna hadits   ini, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>mengabarkan bahwa ia tidak   makan dengan duduk bertumpu pada alas yang dibawahnya, layaknya orang yang   hendak makan banyak. Karena sesungguhnya aku makan hanya sekedar untuk bekal   hidup, sehingga aku duduk layaknya orang yang ingin segera bangkit.&#8221; ()</p>
<p>Ibnu Jarir At Thobari berkata: <em>&#8220;Bila anda bertanya: Apakah ada   batasan tertentu berkaitan dengan nafkah yang dibenarkan dalam Syari&#8217;at? Maka   jawabannya: Ya, ada batasan nafkah yang sesaui dan dibenarkan dalam   masing-masing hal berikut: makanan, minuman, pakaian, sedekah, amal kebajikan   dan lainnya . Saya tidak suka memperpanjang kitab ini dengan menyebutkan   batasan masing-masing. Hanya saja berdasarkan penjelasan di atas, yaitu: bila   anda mengkonsumsi makanan melebihi batas kebutuhan anda, sehingga badan anda   menjadi lemah, tenaga anda luluh, anda tersibukkan dari beribadah kepada   Allah dan menunaikan kewajiban, maka itu berati anda telah   berlebih-lebihan.&#8221; </em>()</p>
<p>Beberapa   syari&#8217;at di atas, hanyalah setetes dari lautan syariat yang bila anda amalkan   dengan penuh keimanan dapat mendatangkan keberkahan dalam hidup anda. Bukan   hanya dalam hal kesehatan raga anda, akan tetapi mencakup seluruh aspek   kehidupan anda, baik di dunia ataupun di akhirat.  <em>Wallahu Ta&#8217;ala   a&#8217;alam</em></p>
<p dir="rtl">
<p>) Fathul Bari oleh Ibnu Hajar   9/263.</p>
<p>) Syarah Muslim   oleh Imam An Nawawi 13/183.</p>
<p>) Al Fatawa Al Mut&#8217;alliqah Bit   Thib Wa Ahkamil Mardho 203.</p>
<p>) Adwaul Bayan 3/12.</p>
<p>) Tafsir Ibnu Abi Hatim 10/3279 &amp; Tafsir Al Baghowi   7/355.</p>
<p>) Zadul Ma&#8217;ad Oleh Ibnul Qayyim 4/16</p>
<p>) Faidhul Qadir, oleh Al Munawi 5/502.</p>
<p>) Jami&#8217; Al Ulum Wa Al Hikam oleh Ibnu Rajab Al Hambali   426.</p>
<p>) Bada&#8217;iul Fawaid oleh Ibnul Qayyim 2/498.</p>
<p>) Zadul Ma&#8217;ad Oleh Ibnul Qayyim 4/16</p>
<p>) Demikian Ibnu Hajar Al Asqalani menukilkan perkataan Al   Khatthabi. Fathul Bari 9/541.</p>
<p>) Tafsir At Thobari 19/300-301.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber : www.serambimadinah.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/341/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=341&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/24/imunisasi-nabawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TIPS Menghilangkan Malas</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/23/tips-menghilangkan-malas/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/23/tips-menghilangkan-malas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 23:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Disusun ulang oleh: Ummu Aufa “Tugas kuliah masih menumpuk di meja, Menghafalkan surat, yah…… hanya dapat ayat pertama saja sudah bosen, mau membaca tetapi mengantuk akhirnya buku-buku kajian beralih fungsi menjadi bantal, kasur empuk selalu menyapaku di malam hari, hmm… apa yang bisa diperbuat agar malas jauh dari diriku?! Akankah hidup yang bagaikan musafir ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=332&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disusun ulang oleh: Ummu Aufa</p>
<p><em>“Tugas kuliah masih menumpuk di meja, Menghafalkan surat, yah…… hanya dapat ayat pertama saja sudah bosen, mau membaca tetapi mengantuk akhirnya buku-buku kajian beralih fungsi menjadi bantal, kasur empuk selalu menyapaku di malam hari, hmm… apa yang bisa diperbuat agar malas jauh dari diriku?! Akankah hidup yang bagaikan musafir ini disia-siakan begitu saja? Tidak… tidak boleh hal itu terjadi padaku, aku harus bisa memusuhi 5 huruf itu yaitu MALAS.”<span id="more-332"></span></em></p>
<p>Malas bisa kita hindari ketika ia datang menyerang kemauan dan semangat kita, di bawah ini ada beberapa tips antara lain:</p>
<ol>
<li>Membasuh muka atau mandi ketika kantuk menyerang.</li>
<li>Mengubah posisi duduk ketika membaca. Misalnya dari      duduk berubah menjadi berdiri, namun disarankan jangan dari duduk terus      berbaring bisa berbahaya atau bisa kebablasan tidur.</li>
<li>Berpindah dari ruang baca ke kamar yang lain. Kalau      sebagai anak kos bisa disiasati, berpindah dari kamar kita ke beranda kos,      ruang tamu atau bahkan bisa juga ke dapur.</li>
<li>Menghirup udara yang segar dengan cara berdiri di dekat      jendela atau membuka jendela-jendela kamar lain untuk menambah kesegaran.      Sebagai anak kos bisa disiasati dengan menciptakan aroma terapi, misalnya      dengan menyemprot ruangan dengan wangi-wangian dan jika ada kipas angin,      bisa menyetel kipas untuk menyebarkan wangi-wangian tersebut ke segala      ruang. Karena mungkin tidak semua anak kos mempunyai jendela kamar.</li>
<li>Berjalan-jalan sebentar di sekeliling rumah. Bisa      diganti dengan kegiatan yang lain misalnya merapikan rak yang berantakan,      atau kegiatan yang lain yang bisa menggerakkan otot-otot kita.</li>
<li>Berbincang-bincang sebentar dengan keluarga atau teman      sekos namun mengenai hal mubah bukan keharoman. Hati-hati jangan sampai      lupa tujuan utama dalam berbincang-bincang yaitu untuk menumbuhkan      semangat, bukan untuk ngobrol bahkan meng-<em>ghibah</em>.</li>
<li>Berdiri membuat secangkir kopi, teh, susu atau <em>juice</em> untuk menghilangkan kebosanan dan menjernihkan akal.</li>
<li>Mengubah kegiatan ketaatan. Misal bosan menghafalkan      surat berganti dengan membaca, jika membaca bosan bisa diganti dengan      mendengarkan kajian lewat CD.</li>
</ol>
<p>Itulah beberapa tips agar kita bisa terjauh dari penyakit malas. Akan tetapi yang paling utama jangan sampai kita lupa berdo’a agar Alloh senantiasa memberi kita semangat dan agar menjauhkan diri kita dari penyakit malas tersebut. <em>Wallohu A’lam bishowab.</em></p>
<p>Semoga tips di atas dapat bermanfaat bagi penulis ataupun bagi pembaca. Selamat tinggal Malas…</p>
<p><strong>Maraji’:</strong> <em>Kaifa Tatahammas</em></p>
<p>***</p>
<p>Sumber : www.muslimah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=332&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/23/tips-menghilangkan-malas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ummu Shalih, 82 tahun, Penghafal Al-Qur’an</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/22/ummu-shalih-82-tahun-penghafal-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/22/ummu-shalih-82-tahun-penghafal-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 22:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[RUBRIK KELUARGA pada Majalah Ad-Dakwah selalu menghadirkan kepada para pembacanya kisah-kisah yanq penuh keteladanan dan juga berbagai informasi yang menyejukkan hati. Berikut ini adalah salah satu pengalaman nyata yang dimuat dalam majalah tersebut.  Mari kita simak bersama! Ummu Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur’an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan Al-Qur’an, sungguh sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=327&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>RUBRIK KELUARGA pada Majalah Ad-Dakwah selalu menghadirkan kepada para pembacanya kisah-kisah yanq penuh keteladanan dan juga berbagai informasi yang menyejukkan hati.</p>
<p>Berikut ini adalah salah satu pengalaman nyata yang dimuat dalam majalah tersebut.  Mari kita simak bersama!<span id="more-327"></span></p>
<p><strong>Ummu Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur’an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan Al-Qur’an, sungguh sangat menginspirasi. Cita-citanya yang tinggi, kesabaran, dan juga pengorbanannya patut kita teladani.</strong></p>
<p>Inilah hasil wawancara dengan Ummu Shalih.</p>
<p><strong>Motivasi apa yang mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Qur’an pada umur yang setua ini?</strong></p>
<p>Sebenarnya, cita-cita saya untuk menghafal Al-Qur’an sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu ayah selalu mendoakanku agar menjadj hafizhah Al-Qur’an seperti beliau dan juga seperti kakak laki-lakiku. Dari hal itulah, aku mampu menghafal beberapa surat —kira-kira 3 juz.</p>
<p>Ketika usiaku menginjak 13 tahun, aku menikah. Tentu setelah itu aku tersibukkan dengan urusan rumah dan anak-anakku. Ketika aku dikaruniai 7 (tujuh) orang anak, suamiku wafat.   Karena ketujuh buah hatiku masih kecil-kecil, maka seluruh waktuku tersita untuk mengurusi dan mendidik mereka.</p>
<p>Nah, ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga, maka waktu ku pun kembali luang. Dan hal yang pertama kali aku tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktuku untuk mewujudkan cita-cita agungku yang tertunda untuk menghafal Kitabullah Azza wa Jalla.</p>
<p><strong>Bagaimana awal perjalanan Anda dalam menghafal?</strong></p>
<p>Aku mulai menghafal kembali ketika putri bungsuku masih duduk di bangku Tsanawiyah (SMP).  Dia salah satu putriku yang paling dekat denganku, dan dia sangat mencintaiku.  Sebab kakak-kakak perempuannya telah menikah dan disibukkan dengan kehidupan baru mereka.  Sedangkan, dia (putri bungsuku) tinggal bersamaku. Dia sangat santun, jujur, dan mencintai kebaikan.</p>
<p>Putri bungsuku pun bercita-cita untuk menghafal Al-Qur’an—terlebih ketika ustadzahnya menyemangati dirinya. Dari sinilah, saya dan juga putri bungsuku menghafal Al-Qur’an, setiap hari 10 ayat.</p>
<p><strong>Bagaimana metode yang Anda gunakan untuk menghafal?</strong></p>
<p>Setiap hari, kami hanya menghafal 10 ayat saja. Pada ba’da Ashar, Kami selalu duduk bersama.   Putriku membaca ayat, kemudian aku menirukannya hingga 3 (tiga) kali.   Setelah itu putriku menerangkan makna dari ayat-ayat yang Kami baca. Lantas membaca kembali ayat-ayat tersebut hingga 3 (tiga) kali.</p>
<p>Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah putriku mengulangi ayat-ayat tersebut untukku. Tak cukup itu saja, saya pun menggunakan tape recorder untuk mendengar murattal Syaikh Al-Hushairi, dan aku mengulanginya hingga 3 (tiga) kali. Aku pun mendengar murattal tersebut pada sebagian besar waktuku.</p>
<p>Kami menetapkan hari Jum’at, khusus untuk mengulangi kembali ayat-ayat yang kami hafal selama satu pekan. Demikian seterusnya, saya dan putri bungsuku selalu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara tersebut.</p>
<p><strong>Kapan Anda selesal menghafal seluruh Al-Qur’an?</strong></p>
<p>Kira-.kira 4,5 tahun berjalan aku sudah hafal 12 Juz dengan cara yang telah saya sebutkan. Kemudian putriku pun menikah. Ketika suaminya mengetahui kebiasaan kami, dia pun mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan rumahku untuk memberikan kesempatan kepadaku dan putriku untuk menyempurnakan hafalan kami.</p>
<p>Semoga Allah membalas kebaikan menantuku dengan kebaikan yang lebih baik. Dialah yang selalu menyemangati kami, bahkan terkadang dia menemani kami untuk menyimak hafalan kami, menafsirkan ayat-ayat yang kami baca, dan juga memberikan pelajaran-pelajaran berharga kepada kami.</p>
<p>Tiga tahun kemudian, putriku tersibukkan dengan urusan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya.   Sehingga tidak bisa melazimi kebiasaan yang telah kami jalani. Putriku pun merasa khawatir hafalanku menjadi terbengkalai. Maka, putriku pun mencarikan untukku seorang ustadzah agar dapat menemaniku menyempurnakan hafalanku.</p>
<p>Dengan taufik Allah Azza Wajalla aku pun telah purna menghafalkan seluruh Al-Qur’an.   Semangat putriku pun masih membara untuk menyusulku menjadi hafizhah Al-Qur’an. Bahkan,  tidak mengendur sedikit pun.</p>
<p><strong>Cita-cita Anda sangat tinggi, dan Anda pun telah mewujudkannya. Siapakah sosok wanita di sekitar Anda yang selalu mendukung Anda?</strong></p>
<p>Motivasi saya telah jelas dan terang. Putri-putriku, juga para menantu perempuanku pastinya selalu mendukungku. Walau hanya satu jam, kami sepakat untuk mengadakan pertemuan sepekan sekali. Dalam pertemuan itu kami menghafal beberapa surat, dan saling menyimak hafalan. Terkadang pertemuan itu pun macet. Tetapi kemudian mereka bersepakat kembali untuk bertemu. Saya yakin, niat mereka semua sangat baik.</p>
<p>Tak ketinggalan pula, cucu-cucu perempuanku yang selalu memberikan kaset-kaset murattal Al-Qur’an. Hingga aku pun selalu memberi mereka bermacam-macam hadiah.</p>
<p>Awalnya, tetangga-tetanggaku juga tidak simpatik dengan cita-citaku. Mereka selalu mengingatkanku betapa sulitnya menghafal di usia yang daya ingatnya telah lemah. Tetapi ketika mereka melihat kebulatan tekadku, akhirnya mereka pun berbalik mendukung dan menyemangatiku. Ada di antara tetanggaku yang juga ikut tersulut semangatnya untuk menghafal, dan sedikit demi sedikit hafalannya pun mulai bertambah.</p>
<p>Ketika tetangga-tetanggaku mengetahui bahwa aku telah purna menghafal seluruh Al-Qur’an, mereka pun sangat berbahagia. Hingga kulihat air mata bahagia menetes di pipi mereka.</p>
<p><strong>Sekarang, apakah Anda merasa kesulitan untuk muraja’ah (mengulangi) hafalan?</strong></p>
<p>Saya selalu mendengarkan murattal Al-Qur’an, dan menirukannya. Demikian juga ketika shalat, saya selalu membaca beberapa surat panjang. Terkadang pula saya meminta salah seorang putriku untuk menyimak hafalanku.</p>
<p><strong>Di antara putra-putri Anda, adakah yang juga hafizh seperti Anda?</strong></p>
<p>Tak ada satu pun dari mereka yang hafal keseluruhan Al-Qur’an. Tetapi, insya Allah mereka selalu berusaha mencapai cita-cita menjadi hafizh. Semoga Allah menyampaikan mereka pada hal tersebut dengan bimbingan-Nya.</p>
<p><strong>Setelah hafal Al-Qur’an, tidak terpikirkan untuk menghafal hadits?</strong></p>
<p>Saat ini, saya telah hafal 90 hadits, dan saya tetap berkeinginan untuk melanjutkannya, Insya Allah. Saya menghafalnya dengan mendengarkan dari kaset. Pada setiap akhir pekan, putriku membacakan untukku 3 (tiga) hadits. Sekarang, saya telah mencoba untuk menghafal hadits lebih banyak lagi.</p>
<p><strong>Setelah kurang lebih 12 tahun Anda disibukkan dengan menghafal Al-Qur’an, perubahan apa yang Anda rasakan dalam kehidupan Anda?</strong></p>
<p>Benar, saya merasakan perubahan yang mendasar dalam diri saya. Walau sebelum menghafal–untuk Allah segala pujian—saya selalu menjaga diri untuk senantiasa dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>Setelah disibukkan dengan menghafalkan Al-Qur’an, justru saya merasakan kelapangan hati yang tak terkira, dan sirnalah seluruh kecemasan dalam diriku. Saya pun tidak pernah menyangka akan terbebas dari perasaan khawatir terhadap urusan-urusan yang menimpa anak-anakku.</p>
<p>Moral dan spiritku benar-benar terangkat. Hingga aku pun rela berpayah-payah untuk mewujudkan kerinduanku dalam mewujudkan cita-citaku. Inilah nikmat terbesar yang diberikan oleh Sang Khaliq Azza Wajalla kepadaku sebagai wanita tua, suami pun telah tiada, dan juga anak-anaknya pun mulai berkeluarga.</p>
<p>Di saat wanita lanjut usia lainnya terjebak dalam angan-angan dan lamunan. Tetapi aku —segala puji hanya untuk Allah— tidak merasakan hal yang demikian. Saya benar-benar tersibukkan dengan urusan besar yang memiliki faedah di dunia dan akhirat.</p>
<p><strong>Ketika itu, apakah Anda tidak berpikir untuk mendaftarkan diri pada sebuah pesantren penghafal Al-Qur’an?</strong></p>
<p>Pernah beberapa wanita yang mengusulkan kepadaku, tapi saya adalah wanita yang terbiasa untuk berdiam diri di dalam rumah dan jarang sekali keluar rumah. Alhamdulillah, karena putriku telah mencukupi segalanya dan membantuku dalam segala urusan. Sungguh, putriku benar-benar tidak ada duanya. Aku pun telah banyak mengambil pelajaran darinya.</p>
<p><strong>Apa yang terkesan dalam diri Anda tentang putri bungsu Anda yang telah membimbing dan mendampingi Anda?</strong></p>
<p>Putri bungsuku telah memberikan pelajaran mengagumkan dalam kebaikan dan kedermawanan yang keduanya sulit ditemui pada zaman sekarang. Terlebih dia mendampingiku menghafal Al-Qur’an pada usia ABG. Padahal,usia ini adalah usia labil yang mudah terombang-ambing dan tergoda dengan keadaan yang menjerumuskan.</p>
<p>Tidak seperti umumnya teman-teman seusianya, putriku memaksakan diri untuk meluangkan waktunya untuk mendampingiku. Dia pun mengajari dan mendampinqiku dengan tekun, sabar, dan penuh kelembutan. Suaminya pun demikian —semoga Allah senantiasa menjaganya, selalu menolong dan telah memberikan bantuan yang begitu banyak. Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan kepada mereka berdua dan menyejukkan pandangan mata mereka dengan anak-anak yang shalih.</p>
<p><strong>Apa saran Anda kepada wanita yang telah lanjut usia, dan menginginkan untuk dapat menghafalkan Al-Qur’an, tetapi terhalang oleh rasa khawatir dan merasa tidak mampu untuk melaksanakannya?</strong></p>
<p>Saya katakan, “Jangan berputus asa terhadap cita-cita yang benar. Teguhkanlah keinginanmu, bulatkan tekadmu, dan berdoalah kepada Allah di setiap waktu. Kemudian, mulailah sekarang juga. Setelah umurmu berlalu dan kau curahkan seluruhnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak, dan mengurus suami. Maka sekarang saatnyalah Anda memanjakan diri. Bukan berarti kemudian memperbanyak keluar rumah, memuaskan diri dengan tidur, bermewah-mewah, dan banyak beristirahat. Tetapi memanjakan diri dengan amal shalih.  Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon khusnul khatimah.</p>
<p><strong>Nasihat Anda terhadap para remaja?</strong></p>
<p>Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Nikmat Allah berupa kesehatan, dan banyaknya waktu luangmu, maksimalkanlah untuk menghafal kitab Allah Azza Wa Jalla. Inilah cahaya yang akan menyinari hatimu, hidupmu, dan kuburmu setelah engkau mati.</p>
<p>Jika kalian masih memiliki ibu, bersungguh-sungguhlah dalam membimbingnya menuju ketaatan kepada Allah. Demi Allah, tidak ada nikmat yang lebih dicintai seorang ibu kecuali seorang anak shalih yang mau menolongnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla.<br />
(diterjemahkan dari quraan-sunna.com)</p>
<p>== disalin dari buku:<br />
HAFAL AL-QUR’AN TANPA NYANTRI<br />
penyusun: Abdud Daim Al Kahil.<br />
penerbit: Pustaka Arafah<br />
Cet I, Maret 2010, halaman 129-137</p>
<p>Sumber : www.jilbab.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=327&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/22/ummu-shalih-82-tahun-penghafal-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebutuhan Gizi Janin dan Ibu Hamil</title>
		<link>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/21/kebutuhan-gizi-janin-dan-ibu-hamil/</link>
		<comments>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/21/kebutuhan-gizi-janin-dan-ibu-hamil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 22:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ummuhilmy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu dan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ummuhilmy.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[KEBUTUHAN GIZI JANIN DAN IBU HAMIL Seorang ibu hamil membutuhkan kalori ekstra, agar tetap bugar dan sehat. Hal tersebut dilakukan dengan memperbaiki dan meningkatkan mutu makanan yang dikonsumsi, bukan dengan menambah kuantitas makanan.Jangan melakukan diet, karena akan membahayakan janin. Secara normal,penambahan berat badan selama tiga bulan pertama adalah sekitar 0,2 –0,3 kg. Pada bulan-bulan berikutnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=324&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEBUTUHAN GIZI JANIN DAN IBU HAMIL</p>
<p>Seorang ibu hamil membutuhkan kalori ekstra, agar tetap bugar dan sehat. Hal tersebut dilakukan dengan memperbaiki dan meningkatkan mutu makanan yang dikonsumsi, bukan dengan menambah kuantitas makanan.Jangan melakukan diet, karena akan membahayakan janin.<span id="more-324"></span></p>
<p>Secara normal,penambahan berat badan selama tiga bulan pertama adalah sekitar 0,2 –0,3 kg. Pada bulan-bulan berikutnya penambahan berat badan sekitar 0,3 – 0,4 kg setiap minggu. Selama masa kehamilan, penambahan  normal berat badan seluruhnya adalah sekitar 6,5 – 18 kg.</p>
<p>Zat-zat gizi yang penting untuk dikonsumsi ibu hamil adalah sebagai berikut :</p>
<table style="height:1349px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="519">
<tbody>
<tr>
<td width="89" valign="top"><strong>JENIS ZAT GIZI</strong></td>
<td width="236" valign="top"><strong>FUNGSI</strong></td>
<td width="246" valign="top"><strong>SUMBER</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Asam folat</td>
<td width="236" valign="top">Zat gizi yang penting dalam proses perkembangan janin, terutama perkembangan   sistem syaraf dan sel darah.</td>
<td width="246" valign="top">Bayam brokoli, pisang, jeruk, asparagus, bit merah atau kedelai.   Dapat juga dikonsumsi makanan yang diperkaya oleh asam folat seperi cereal.</td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Vitamin C</td>
<td width="236" valign="top">zatgizi yang berperandalam proses penyembuhanluka,   sertameningkatkandayatahantubuhmelawaninfeksidan stress</td>
<td width="246" valign="top">sayur-sayuran dan buah-buahan segar, seperti jeruk, pepaya,   kiwi, tomat, paprika, bayam, brokoli atau kol.</td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Vitamin D</td>
<td width="236" valign="top">Zat gizi yang penting dalam proses metabolisme kalsium dan fosfor   dalam tubuh. Zat gizi ini penting untuk pertumbuhan janin. Hal ini sangat terasa   pada proses pengaturan mineral pada struktur tulang dan gigi.</td>
<td width="246" valign="top">ikan yang berlemak banyak, seperti sardines, mackerel, tuna atau   salmon, minyak ikan, telur, susu fullcream, atau mentega.</td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Vitamin B12</td>
<td width="236" valign="top">Zat gizi yang berperan sebagai “penjaga” yang mengatur sel-sel,   terutama sel-sel saluran pencernaan, sistem syaraf, dan sumsum tulang agar   berfungsi normal, juga untuk perkembangan sistem syaraf bayi pada masa awal kehamilan.</td>
<td width="246" valign="top">Banyak diperoleh pada hasil ternak dan produk olahannya. Hasil nabati   atau sumber yang berasal dari tumbuh-tumbuhan umumnya bukan merupakan sumber   vitamin B12, kecuali beberapa produk fermentasi seperti tempe, tauco, kecap dan   oncom.</td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Lemak essensial</td>
<td width="236" valign="top">Yang termasuk kedalam lemak esensial ini adalah Asam Eikosapentaenoat   (EPA), dan Asam Dokosaheksaenoat (DHA) yang dikenal sebagai Omega 3</td>
<td width="246" valign="top">Jenis lemak yang tidak dapat dibuat oleh tubuh sendiri, tetapi dapat   diperoleh dari makanan yang dimakan, seperti ikan, minyak sayur,   kacang-kacangan, biji bunga matahari, serta wijen.</td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Protein</td>
<td width="236" valign="top">Merupakan unsur pembentuk jaringan baru sehingga diperlukan bagi   pertumbuhan janin.</td>
<td width="246" valign="top">Protein hewani dapat diperoleh pada daging sapi, unggas, ikan,   telur, susu serta produk olahan susu seperti keju. Protein nabati dapat diperoleh   pada kacang-kacangan serta produk olahannya seperti tempe, tahu atau pidakas   (mentegakacang).</td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Zat besi</td>
<td width="236" valign="top">Zat gizi yang diperlukan agar sang ibu hamil tidak kekurangan darah,   dan mempunyai persediaan  zat gizi yang cukup untuk menghadapi persalinan.</td>
<td width="246" valign="top">daging, ikan telur untuk zat besi hem dan pada tumbuh-tumbuhan seperti   sayuran, serealia, biji-bijian serta kacang-kacangan untuk zat besi non-hem.</td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Kalsium</td>
<td width="236" valign="top">Sangat penting saat kehamilan memasuki bulan-bulan terakhir.   Kalsium ini penting bagi pertumbuhan tulang dan gigi janin. Bila ibu tidak mendapatkan   asupan kalsium yang cukup, maka janin akan mengambil kalsium ini dalam tubuh ibu   hamil, yaitu pada tulang. Hal ini akan mengakibatkan si ibu mengalami penyakit   tulang mudah keropos atau osteoporosis atau tulang mudah sakit atau osteophagia.</td>
<td width="246" valign="top">Sumber makanan yang mengandung banyak kalsium diantaranya adalah   telur, susu beserta produk olahannya, sayuran hijau, rumput laut, serta ikan.</td>
</tr>
<tr>
<td width="89" valign="top">Serat</td>
<td width="236" valign="top">diperlukan agar ibu hamil tidak mengalami sembelit, wasir, atau   rasa panas dalam perut.</td>
<td width="246" valign="top">Serat didapat pada sayur-sayuran dan buah-buahan, beras merah,   atau tepung terigu yang tidak disosoh (whole wheat flour).</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>DaftarPustaka</strong></p>
<ul>
<li>9 Bulan yang Menakjubkan, Seri Ayah Bunda, Penerbit      Gaya Favorit Press, 2001</li>
</ul>
<p>Artikel kiriman dari Ummu Hammad Abdulloh untuk www.ummuhilmy.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ummuhilmy.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ummuhilmy.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ummuhilmy.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ummuhilmy.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ummuhilmy.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ummuhilmy.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ummuhilmy.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ummuhilmy.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ummuhilmy.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ummuhilmy.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ummuhilmy.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ummuhilmy.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ummuhilmy.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ummuhilmy.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ummuhilmy.wordpress.com&amp;blog=13025036&amp;post=324&amp;subd=ummuhilmy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ummuhilmy.wordpress.com/2010/06/21/kebutuhan-gizi-janin-dan-ibu-hamil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/264df126d1a48a7fc215c5dfea61f10f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ummuhilmy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
